Istilah “dasarian” mendadak ramai dicari warganet Indonesia pada 25 Agustus 2026, dengan volume penelusuran mencapai lebih dari 10 ribu kali dalam status tren aktif di Google. Kata ini sebenarnya bukan istilah baru, sebab BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) rutin memakainya dalam laporan curah hujan, analisis musim, dan pemantauan iklim di seluruh wilayah Indonesia.

Meski sering muncul di buletin resmi BMKG, tidak semua orang paham arti sebenarnya dari dasarian I, II, dan III. Banyak yang mengira istilah ini sama dengan minggu atau bahkan menafsirkannya sebagai prakiraan “hujan setiap hari selama sepuluh hari”, padahal maknanya berbeda jauh.

Artikel ini merangkum definisi dasarian menurut BMKG, pembagian tanggalnya, cara membacanya dalam laporan cuaca dan musim, hingga kesalahpahaman yang paling sering terjadi di masyarakat.

Apa Itu Dasarian?

Menurut definisi yang dipakai stasiun-stasiun klimatologi BMKG di berbagai daerah, dasarian adalah satuan waktu sekitar sepuluh hari yang digunakan untuk membagi satu bulan kalender menjadi tiga periode. Istilah ini berasal dari kata “dasa” yang berarti sepuluh, digabung dengan “harian”, sehingga secara harfiah berarti “sepuluh harian”.

Penamaan ini sengaja dipilih agar tidak rancu dengan kata “dekade” yang dalam bahasa Indonesia lazim merujuk pada rentang sepuluh tahun, bukan sepuluh hari.

Pembagian Dasarian dalam Satu Bulan

Dasarian Rentang Tanggal Jumlah Hari
Dasarian I 1–10 10 hari
Dasarian II 11–20 10 hari
Dasarian III 21 – akhir bulan 8–11 hari, tergantung jumlah hari dalam bulan tersebut
Baca Juga:  Memori HP Penuh? Ini Cara Mengosongkan Penyimpanan dengan Aman

Dasarian III memang tidak selalu berdurasi 10 hari karena mengikuti sisa hari pada kalender. Misalnya pada bulan dengan 31 hari seperti Agustus, dasarian III berlangsung selama 11 hari (21–31 Agustus), sementara pada Februari tahun biasa hanya berlangsung 8 hari (21–28 Februari).

Mengapa BMKG Menggunakan Sistem Dasarian?

Pemantauan iklim membutuhkan resolusi waktu yang lebih detail daripada data bulanan, tetapi juga perlu lebih stabil dibanding fluktuasi cuaca harian yang bisa berubah drastis. Sistem dasarian menjadi jalan tengah yang dipakai BMKG untuk kebutuhan tersebut.

Beberapa produk resmi BMKG yang memakai satuan dasarian antara lain:

  • Analisis dan prediksi curah hujan
  • Penilaian sifat hujan dibandingkan kondisi normal
  • Pemantauan awal musim hujan dan musim kemarau
  • Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) dan potensi kekeringan
  • Dukungan data untuk sektor yang bergantung pada pola hujan, seperti pertanian dan pengelolaan sumber daya air

Curah Hujan per Dasarian, Bukan per Hari

Angka curah hujan yang dilaporkan dalam satuan milimeter per dasarian merupakan akumulasi selama periode sekitar sepuluh hari tersebut, bukan jumlah hujan yang turun setiap hari. Sebagai gambaran, jika suatu wilayah tercatat memiliki curah hujan 50 mm dalam satu dasarian, itu bisa berarti hujan ringan hingga sedang yang terjadi pada beberapa hari saja, bukan 50 mm setiap harinya sepanjang dasarian tersebut.

Kategori Sifat Hujan Menurut BMKG

Selain jumlah curah hujan, BMKG juga membandingkan realisasi hujan dengan kondisi normal klimatologis melalui tiga kategori:

  • Atas Normal (AN): curah hujan lebih dari 115 persen dari kondisi normal
  • Normal (N): curah hujan berada di kisaran 85–115 persen dari normal
  • Bawah Normal (BN): curah hujan kurang dari 85 persen dari normal

Hubungan Dasarian dengan Awal Musim Hujan dan Kemarau

Penetapan awal musim oleh BMKG tidak didasarkan pada satu hari hujan saja, melainkan pola curah hujan per dasarian secara berturut-turut. Secara umum, kriteria yang dipakai adalah sebagai berikut.

  • Awal musim hujan ditandai saat curah hujan dalam satu dasarian mencapai 50 mm atau lebih, dan diikuti dasarian berikutnya yang memenuhi kriteria serupa.
  • Awal musim kemarau ditandai saat curah hujan dalam satu dasarian kurang dari 50 mm, juga diikuti dasarian berikutnya dengan pola yang konsisten.
Baca Juga:  Aturan Baru Sisa Kuota Internet: Ini Kata MK dan Kemkomdigi

Penetapan awal musim di suatu wilayah dapat maju, sama, atau mundur dibandingkan rata-rata normalnya, tergantung dinamika atmosfer setiap tahun. Pihak BMKG kerap mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tetap merujuk kanal resminya untuk info cuaca aktual dan peringatan dini, karena data dasarian sifatnya adalah gambaran tren iklim, bukan prakiraan harian yang pasti.

Mengenal Zona Musim (ZOM)

Dalam laporan musim, BMKG juga mengenal istilah Zona Musim atau ZOM, yaitu wilayah yang memiliki pola musim relatif seragam. Perlu dicatat, batas ZOM tidak selalu mengikuti batas administratif kabupaten atau provinsi — satu kabupaten bisa saja terbagi ke dalam beberapa ZOM sekaligus, atau sebaliknya.

Indeks Dasarian: 36 Periode dalam Setahun

Selain penyebutan dasarian I, II, dan III yang menunjukkan posisi dalam satu bulan, BMKG juga mengenal istilah indeks dasarian, yaitu urutan dasarian sepanjang satu tahun kalender, umumnya dari 1 hingga 36.

Angka 36 ini didapat dari perhitungan 12 bulan dikalikan 3 dasarian per bulan. Meski jumlah dasarian dalam setahun tetap 36, panjang dasarian III pada tiap bulan tetap menyesuaikan jumlah hari kalender bulan tersebut.

Dasarian vs Minggu, Bulanan, dan Prakiraan Cuaca Harian

Aspek Dasarian Mingguan Bulanan Prakiraan Harian
Durasi Sekitar 8–11 hari, mengikuti tanggal tetap 7 hari 1 bulan penuh 1 hari
Dasar Pembagian Tanggal 1–10 / 11–20 / 21–akhir Siklus 7 harian Kalender bulan Observasi dan model cuaca harian
Fokus Utama Data iklim, akumulasi hujan, pemantauan musim Penjadwalan kalender Rangkuman agregat bulanan Kondisi cuaca hari ini atau besok

Dari perbandingan di atas terlihat jelas bahwa dasarian bukanlah prakiraan cuaca sepuluh hari yang memastikan hujan turun di setiap tanggalnya, melainkan satuan waktu untuk analisis tren iklim jangka menengah.

Baca Juga:  Cara Membuat KK Online Lewat HP, Ini Syarat dan Tahapannya

Cara Membaca Penyebutan seperti “Agustus III” atau “September I”

Penulisan Artinya
Agustus I / September I Tanggal 1–10 pada bulan tersebut
Agustus II / September II Tanggal 11–20 pada bulan tersebut
Agustus III Tanggal 21–31 Agustus
September III Tanggal 21–30 September

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Sejumlah miskonsepsi soal dasarian yang kerap beredar di masyarakat antara lain:

  • Menganggap semua dasarian selalu tepat 10 hari, padahal dasarian III bisa berlangsung 8 hingga 11 hari.
  • Mengira dasarian III selalu jatuh pada tanggal 21–30, padahal pada bulan dengan 31 hari, rentangnya menjadi 21–31.
  • Menyamakan “Agustus III” dengan “bulan ketiga”, padahal maksudnya adalah periode ketiga dalam bulan Agustus.
  • Menyamakan dasarian I dengan minggu pertama dalam bulan, padahal keduanya memiliki basis perhitungan berbeda.
  • Menganggap prediksi curah hujan dasarian berarti hujan akan turun setiap hari selama periode tersebut.
  • Mengartikan satuan mm per dasarian sebagai jumlah hujan yang turun setiap hari, padahal itu adalah akumulasi.
  • Menyimpulkan musim hujan sudah dimulai hanya karena satu hari terjadi hujan.

Pertanyaan Seputar Dasarian

Apa itu dasarian? Dasarian adalah pembagian satu bulan menjadi tiga periode berdurasi sekitar sepuluh hari yang dipakai BMKG untuk analisis klimatologi.

Dasarian 1, 2, dan 3 jatuh pada tanggal berapa? Dasarian I pada tanggal 1–10, dasarian II pada tanggal 11–20, dan dasarian III pada tanggal 21 hingga akhir bulan.

Kenapa dasarian III tidak selalu berdurasi 10 hari? Karena rentangnya mengikuti jumlah hari kalender pada bulan tersebut, yang bisa 28, 29, 30, atau 31 hari.

Berapa jumlah dasarian dalam satu tahun? Total ada 36 dasarian dalam satu tahun kalender.

Apakah dasarian sama dengan prakiraan cuaca 10 hari? Tidak. Dasarian adalah satuan waktu untuk analisis tren iklim, bukan kepastian hujan di setiap tanggal.

Apa kaitan dasarian dengan penentuan musim? Awal musim hujan maupun kemarau ditentukan dari pola curah hujan per dasarian secara berturut-turut, bukan dari satu hari hujan saja.

Kesimpulan

Secara ringkas, dasarian I mencakup tanggal 1–10, dasarian II tanggal 11–20, dan dasarian III tanggal 21 sampai akhir bulan. BMKG memanfaatkan pembagian ini untuk menyajikan data dan prediksi iklim yang lebih rinci dibanding data bulanan, namun tetap stabil dibanding fluktuasi harian. Untuk informasi cuaca aktual dan peringatan dini, masyarakat tetap disarankan merujuk pada kanal resmi BMKG.