Panas menyengat di siang hari, tanah yang mulai retak, dan hujan yang cuma singgah sesekali—pertanyaan soal kapan kemarau 2026 benar-benar usai jadi makin sering muncul belakangan ini. Sayangnya, jawabannya tidak sesederhana satu tanggal untuk seluruh Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selalu menekankan bahwa pola hujan di Nusantara tidak seragam. Lembaga ini membaca musim lewat Zona Musim (ZOM), bukan lewat batas provinsi maupun kota, sehingga dua daerah yang bertetangga pun bisa punya jadwal kemarau yang berbeda.

Memasuki pertengahan Agustus 2026, kemarau memang sudah menguasai sebagian besar wilayah daratan. El Niño tercatat berada pada intensitas sangat kuat, Indian Ocean Dipole (IOD) cenderung positif, dan curah hujan di banyak tempat masih jauh dari kata basah. Artikel ini merangkum kapan puncak kemarau terjadi, wilayah mana yang berpotensi baru basah belakangan, bagaimana El Niño memengaruhi situasi ini, sampai cara memeriksa prediksi cuaca musiman untuk daerah masing-masing.

Jawaban Singkat: Kapan Musim Kemarau 2026 Berakhir?

Tidak ada tanggal tunggal yang berlaku nasional. Dalam konferensi pers pada 30 Juli 2026, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa secara umum kemarau tahun ini diperkirakan berakhir sekitar pertengahan Oktober, meski waktu pastinya tetap berbeda dari satu ZOM ke ZOM lainnya.

Puncak kemarau paling luas terjadi pada Agustus, kemudian masih cukup signifikan pada September. Curah hujan dalam kategori tinggi baru diperkirakan muncul secara bertahap pada rentang Oktober hingga November. Sementara itu, wilayah di sekitar garis khatulistiwa serta sejumlah ZOM di bagian utara memang tidak mengikuti pola kemarau-hujan yang sama seperti daerah lain. Ditambah lagi, El Niño yang sangat kuat serta peluang IOD positif berpotensi menahan suplai uap air, sehingga naiknya curah hujan belum tentu langsung menandai dimulainya musim hujan resmi.

Informasi Kondisi Terbaru
Status musim saat ini 535 ZOM (76,5% wilayah) sudah memasuki kemarau (Dasarian I Agustus 2026)
Puncak kemarau Dominan Agustus — 369 ZOM (48,84% luas daratan); September 169 ZOM (25,41%)
Wilayah paling terdampak Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Papua
Perkiraan hujan mulai naik Bertahap Oktober–November 2026
Perkiraan awal musim hujan Belum ada Prediksi Musim Hujan 2026/2027 resmi; secara umum transisi sekitar pertengahan Oktober, berbeda antar-ZOM
Status El Niño Sangat kuat; SSTA Nino 3.4 dasarian I Agustus +2,77
Status IOD Indeks dasarian I Agustus +0,457; berpeluang positif September–Desember
Kondisi monsun Monsun Australia diprediksi aktif hingga akhir 2026, intensitas mendekati normal
Risiko kekeringan Peringatan dini Awas di sejumlah kabupaten Jawa, Bali, NTB, NTT, Banten
Risiko karhutla Meningkat, terutama di Sumatra dan Kalimantan

Mengapa Tak Ada Satu Tanggal Berakhirnya Kemarau untuk Seluruh Indonesia?

Bentangan wilayah Indonesia yang memotong garis khatulistiwa membuat pola cuacanya sangat beragam—ada dataran pesisir, pegunungan, hingga gugusan pulau kecil yang masing-masing punya karakter iklim sendiri.

Sebagian wilayah mengikuti pola monsun yang cukup jelas: lebih basah ketika Monsun Asia dominan, lebih kering saat Monsun Australia menguat. Ada pula daerah bertipe ekuatorial yang hujannya relatif merata sepanjang tahun, serta pola lokal yang lebih dipengaruhi topografi dan suhu permukaan laut di sekitarnya.

Karena itu, data nasional hanya memberi gambaran besar. Untuk urusan tanam, perjalanan, atau pengelolaan air, masyarakat perlu merujuk pada prediksi ZOM di wilayah masing-masing, bukan angka rata-rata nasional.

Apa Itu Zona Musim (ZOM)?

ZOM adalah satuan wilayah yang disusun BMKG berdasarkan kemiripan pola curah hujan, bukan berdasarkan batas administratif. Dalam praktiknya, satu kabupaten bisa mencakup lebih dari satu ZOM, dan hampir semua provinsi memiliki beberapa ZOM sekaligus.

Zonasi yang dipakai saat ini merujuk pada klimatologi periode 1991–2020, atau dikenal sebagai ZOM9120. Tujuannya agar awal dan akhir musim diukur pada unit wilayah yang pola hujannya relatif seragam.

Perlu dicatat juga, tidak semua wilayah mengenal dua musim yang tegas. Pada pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat 113 ZOM masuk kategori tipe satu musim, yakni daerah yang secara klimatologis tidak membentuk pembagian kemarau-hujan yang jelas. Wilayah semacam ini tidak bisa disamaratakan dengan kalender musim di Jawa atau Nusa Tenggara.

Baca Juga:  Cara Transaksi Menggunakan PayPal untuk Bayar, Transfer, dan Tarik Dana

Bagaimana BMKG Menetapkan Awal dan Akhir Musim?

BMKG tidak menetapkan musim berdasarkan satu hari hujan atau kering, melainkan memakai ambang curah hujan per dasarian (periode sepuluh harian).

Awal kemarau ditetapkan ketika curah hujan dalam satu dasarian berada di bawah 50 mm dan diikuti dua dasarian berikutnya yang tetap memenuhi kriteria kering. Sebaliknya, awal musim hujan ditetapkan bila satu dasarian mencatat curah hujan 50 mm atau lebih, juga diikuti dua dasarian berikutnya yang konsisten.

Artinya, hujan yang turun satu-dua hari di tengah Agustus belum cukup untuk menyatakan musim hujan telah dimulai. Begitu pula sebaliknya, gerimis singkat di tengah kemarau tidak otomatis mengubah status musim.

Apa Itu Dasarian? Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian: Dasarian I (tanggal 1–10), Dasarian II (tanggal 11–20), dan Dasarian III (sisa hari dalam bulan tersebut). BMKG memakai satuan ini karena musim adalah pola yang bertahan lama, bukan kejadian cuaca harian—sehingga prediksi awal musim, sifat hujan, dan peringatan dini kekeringan biasanya disusun per dasarian.

Kapan Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi?

Puncak kemarau adalah periode dengan curah hujan musiman paling rendah—bukan hari terakhir musim kering. Berdasarkan pemutakhiran data Juni 2026, puncak paling luas jatuh pada bulan Agustus.

Periode Puncak Jumlah ZOM Persentase Luas Daratan Wilayah Utama
Juli 2026 83 ZOM 12,26% Sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, NTT bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua
Agustus 2026 369 ZOM 48,84% Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua
September 2026 169 ZOM 25,41% Babel, sebagian besar Sumsel dan Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Papua Pegunungan bagian tengah

Sebagai catatan, prediksi Maret 2026 sempat menyebut puncak Agustus mencakup 429 ZOM atau 61,4% wilayah. Angka ini kemudian disesuaikan pada pemutakhiran Juni, yang juga mengubah metrik dari persentase jumlah ZOM menjadi persentase luas daratan—sehingga kedua angka sebaiknya tidak dicampur tanpa konteks.

Apakah September 2026 Masih Termasuk Kemarau?

Untuk sebagian besar ZOM di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, dan Kalimantan bagian selatan, September masih tergolong kemarau—bahkan sebagian masih berada di puncaknya. Prediksi curah hujan kumulatif September 2026 menempatkan 75,05% wilayah pada kategori rendah, yakni 0–100 mm per bulan.

Meski begitu, wilayah bertipe satu musim dan sejumlah area di utara khatulistiwa tetap berpeluang mendapat hujan lokal. Jadi, September 2026 bukan “kemarau nasional” yang seragam, melainkan kondisi kering yang masih mendominasi sebagian besar daratan.

Apakah Oktober 2026 Sudah Masuk Musim Hujan?

Belum tentu. Oktober berpotensi menjadi periode kenaikan curah hujan atau bahkan awal musim hujan di sejumlah ZOM, tetapi waktunya tetap berbeda antarwilayah.

Ardhasena menyebut rentang Oktober–November sebagai masa ketika peta iklim mulai menunjukkan pola hujan yang mendekati normal, termasuk di Pulau Jawa—meski sifat hujan Jawa pada November masih berpeluang berada di bawah normal. Penting dibedakan: naiknya curah hujan, masa pancaroba, dan penetapan resmi awal musim hujan adalah tiga hal yang berbeda.

Bagaimana dengan November 2026?

Di banyak wilayah bertipe monsunal, November umumnya lebih basah dibanding Agustus-September. Climate Outlook 2026 menempatkan periode November-Desember pada kategori curah hujan menengah hingga tinggi, dengan peluang hujan sangat tinggi di Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Namun, itu baru kecenderungan curah hujan, bukan penetapan resmi awal musim per ZOM. Karena Prediksi Musim Hujan 2026/2027 belum diterbitkan BMKG, November belum bisa disebut sebagai bulan resmi dimulainya musim hujan untuk seluruh Indonesia.

Prediksi Akhir Kemarau 2026 Berdasarkan Wilayah

Sumatra — Sebagian besar ZOM mengalami awal kemarau lebih cepat. Puncak terjadi Agustus di bagian tengah, bergeser ke September untuk Babel, Sumsel, dan Lampung. Aceh serta Sumatera Barat tetap berpeluang mendapat hujan lokal, bahkan di tengah puncak kemarau nasional.

Jakarta dan Banten — Termasuk wilayah kering menurut prediksi September. Transisi di Oktober tidak otomatis berarti musim hujan sudah resmi dimulai; warga tetap perlu memeriksa prediksi ZOM dan dasarian setempat, bukan sekadar mengikuti berita nasional.

Jawa Barat — Masuk puncak kemarau Agustus, bahkan sempat mendapat peringatan dini kekeringan kategori Awas pada awal-pertengahan Agustus. Hujan November berpotensi naik, meski sifatnya masih bisa di bawah normal.

Jawa Tengah dan DI Yogyakarta — Puncak kemarau di Agustus. Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang pada pemantauan akhir Juli tercatat mencapai 90 hari di Bantul. Status kekeringan meteorologis kategori Awas perlu terus dipantau lewat peringatan dasarian.

Jawa Timur — Puncak Agustus, dengan sebagian ZOM masih berada di puncak hingga September. Secara umum, durasi kemarau di Jawa termasuk yang lebih panjang dibanding wilayah lain.

Bali — Puncak Agustus, dan September masih tergolong kering. Risiko kekeringan dan kebakaran hutan/lahan perlu terus diwaspadai sampai hujan benar-benar konsisten turun.

Nusa Tenggara Barat — Puncak Agustus, dan termasuk salah satu wilayah yang biasanya paling lambat memasuki musim basah.

Baca Juga:  Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Saat Masih Bekerja, Ini Syaratnya

Nusa Tenggara Timur — Sebagian ZOM puncak di Agustus, sebagian besar lainnya di September. Wilayah ini menjadi kandidat kuat untuk mengalami kemarau lebih panjang dari biasanya.

Kalimantan — Puncak Agustus di sebagian besar pulau, bergeser ke September untuk bagian selatan. Titik panas dan asap sudah mulai terpantau. Ada pula sejumlah ZOM bertipe satu musim yang tidak mengikuti pola kemarau di wilayah selatan.

Sulawesi — Kondisinya heterogen, dengan puncak Agustus di sebagian ZOM dan September di sebagian besar lainnya.

Maluku dan Maluku Utara — Puncak kemarau tersebar antara Agustus hingga September, dengan pengaruh pola lokal yang cukup kuat.

Papua — Sebagian besar wilayah mengalami puncak di Agustus, sementara Papua Pegunungan bagian tengah berpuncak di September. Papua Selatan menjadi perhatian khusus terkait risiko kebakaran hutan dan lahan, sedangkan bagian utara berpotensi tetap basah.

Daerah Mana yang Diprediksi Mengalami Kemarau Lebih Panjang?

Pemutakhiran Juni 2026 memproyeksikan durasi kemarau lebih panjang dari normal pada 437 ZOM, mencakup 48,77% luas daratan Indonesia. Sementara itu, 70 ZOM (8,32% luas daratan) diperkirakan sama dengan kondisi normal, dan 79 ZOM (9,23%) justru lebih pendek. Sebagian besar dari ZOM yang mengalami perpanjangan durasi diperkirakan bertambah 10-21 dasarian, mencakup 388 ZOM atau 47,45% luas daratan.

Penting dipahami, istilah “lebih panjang dari normal” berarti periode curah hujan dasarian rendah bertahan lebih lama dibanding rata-rata klimatologis 1991-2020—bukan berarti tidak ada hujan sama sekali sepanjang periode tersebut.

Apa yang Membuat Kemarau 2026 Berpotensi Lebih Panjang?

BMKG menyebut tiga faktor pendorong utama: penguatan El Niño, peluang IOD positif, dan Monsun Australia yang tetap aktif. Kombinasi suhu muka laut dan pola sirkulasi atmosfer ini mengurangi suplai uap air ke sebagian besar wilayah, terutama yang berada di selatan garis khatulistiwa.

Meski begitu, hubungan ketiga faktor ini dengan curah hujan di lapangan tidak selalu linier—gangguan cuaca regional tetap bisa memicu hujan lokal di tengah periode kemarau.

Pengaruh El Niño terhadap Musim Kemarau 2026

El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah-timur ekuator yang berdampak pada perubahan sirkulasi atmosfer global. Di Indonesia, ketika El Niño bertepatan dengan musim kemarau, dampaknya cenderung menekan curah hujan—terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa El Niño dan musim kemarau sebenarnya adalah dua fenomena yang berbeda: musim kemarau merupakan siklus tahunan yang rutin terjadi, sementara El Niño bersifat periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika keduanya berlangsung bersamaan. Ia juga menegaskan bahwa El Niño tidak berarti Indonesia sama sekali tidak akan diguyur hujan.

Sampai Kapan El Niño 2026 Diperkirakan Berlangsung?

Pada Juni 2026, BMKG memprediksi El Niño akan bertahan hingga awal 2027, dengan peluang moderat mencapai 98% dan peluang kuat 62%. Prediksi ini diperbarui pada 30 Juli, di mana BMKG menyatakan fenomena tersebut setidaknya akan berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas yang melampaui kategori kuat.

Pemantauan pada dasarian I Agustus 2026 mencatat nilai SSTA Nino 3.4 sebesar +2,77 (naik dari nilai bulanan Juli yang tercatat +2,20), menempatkan status El Niño pada kategori sangat kuat. Menurut BMKG, dampak utama fenomena ini ke Indonesia terfokus pada masa pertemuannya dengan musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober—dan berlanjutnya El Niño ke 2027 tidak lantas membuat sepanjang tahun tersebut menjadi kemarau.

Apa Pengaruh IOD Positif?

Indian Ocean Dipole (IOD) adalah selisih suhu muka laut antara wilayah barat dan timur Samudra Hindia. Kondisi IOD positif cenderung membuat suhu perairan di barat Indonesia relatif lebih dingin, sehingga mengurangi suplai uap air ke wilayah tersebut.

Indeks IOD pada dasarian I Agustus 2026 tercatat +0,457. BMKG memperkirakan peluang IOD positif akan berlanjut pada September hingga Desember 2026, yang berpotensi memperberat kondisi kering apabila berimpit dengan pengaruh El Niño—meski dampaknya tetap tidak merata di semua wilayah.

Peran Monsun Australia dan Monsun Asia

Monsun Australia berkaitan dengan periode yang relatif lebih kering di banyak wilayah Indonesia bagian selatan. Pemutakhiran Juni memprediksi monsun ini akan tetap aktif setidaknya hingga akhir 2026, dengan intensitas mendekati kondisi normal.

Sebaliknya, Monsun Asia berperan dalam menyuplai udara lembap saat musim hujan berlangsung. Perlu dicatat, pergantian arah monsun tidak membuat hujan turun serentak di seluruh pulau pada waktu yang sama.

Prediksi Curah Hujan September–Desember 2026

Bulan Prediksi Umum Wilayah Hujan Rendah Wilayah Hujan Menengah/Tinggi
September 2026 Rendah 75,05%; menengah 23,14%; tinggi 1,81% Sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, banyak wilayah Sumatra selatan, Kalimantan, Sulawesi Terbatas, terutama sebagian Aceh dan Sumatra Utara
Oktober 2026 Rendah hingga tinggi Masih luas di selatan Peluang naik di barat, termasuk Aceh
November 2026 Menengah hingga tinggi Sebagian Jawa masih berpeluang bawah normal Aceh, Sumbar, Bengkulu, Banten, Jabar, Jateng, Sulsel
Desember 2026 Menengah hingga tinggi Bergantung ZOM Serupa November, lebih basah di banyak wilayah barat
Baca Juga:  Limit Top Up dan Saldo DANA 2026, Cek Batas Basic dan Premium

Perlu digarisbawahi bahwa data Oktober-Desember di atas memakai outlook dan pernyataan pejabat, bukan peta deterministik serinci data September, sehingga angka bulan September sebaiknya tidak ditafsirkan berlaku sama untuk bulan-bulan berikutnya.

Curah Hujan vs Sifat Hujan, Apa Bedanya?

Curah hujan mengukur jumlah air hujan yang diperkirakan turun, biasanya dalam satuan milimeter. Sementara sifat hujan membandingkan jumlah tersebut dengan kondisi normal klimatologis periode 1991-2020, dengan tiga kategori: Atas Normal, Normal, dan Bawah Normal.

Pemutakhiran Juni menempatkan 482 ZOM (56,18% luas daratan) pada kategori Bawah Normal selama musim kemarau berlangsung. Kategori ini berarti kondisi lebih kering dari rata-rata jangka panjang—bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Wilayah berstatus Bawah Normal tetap bisa mengalami hujan sesaat, kemudian kering kembali.

Hari Tanpa Hujan (HTH) dan Risiko Kekeringan

HTH mengukur rentetan hari dengan curah hujan sangat rendah, umumnya di bawah 1 mm—indikator kekeringan meteorologis, bukan ramalan musim.

Kategori HTH Lama Hari Tanpa Hujan
Sangat pendek 1–5 hari
Pendek 6–10 hari
Menengah 11–20 hari
Panjang 21–30 hari
Sangat panjang 31–60 hari
Ekstrem panjang Lebih dari 60 hari

Pemantauan pada Dasarian III Juli 2026 mencatat 1.657 titik dengan HTH sangat panjang (31-60 hari) dan 306 titik ekstrem panjang (lebih dari 60 hari), terutama tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi. Rekor HTH terpanjang tercatat mencapai 90 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Angka-angka ini merupakan hasil observasi hingga akhir Juli-awal Agustus, bukan proyeksi hingga Oktober, sehingga masyarakat disarankan memeriksa peta HTH terbaru karena satu kali hujan saja bisa memutus rentetan hari kering tersebut.

Wilayah yang Perlu Waspada Kekeringan

Untuk Dasarian II Agustus 2026, BMKG menetapkan status Awas di sejumlah kabupaten/kota di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Status Siaga dan Waspada mencakup wilayah yang lebih luas, termasuk sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Vegetasi yang mengering akibat HTH panjang menjadi bahan bakar potensial kebakaran. Meski El Niño memperbesar peluang kondisi kering, penyalaan api hampir selalu melibatkan faktor manusia.

Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas, terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Wilayah dengan risiko tinggi mencakup Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Dampak Kemarau Panjang bagi Pertanian dan Ketersediaan Air

Bagi sektor pertanian, kemarau panjang membuat air irigasi menipis, jadwal tanam bergeser, dan tanaman semusim menjadi lebih rentan. Efisiensi penggunaan air, pemilihan varietas tahan kering, serta kalender tanam yang disesuaikan kondisi setempat menjadi lebih relevan dibanding sekadar mengacu pada tanggal nasional. Rekomendasi teknis tanam sebaiknya tetap merujuk Kementerian Pertanian dan dinas pertanian setempat, dengan prediksi ZOM BMKG sebagai salah satu masukan iklim.

Sementara untuk ketersediaan air, waduk, embung, sumur, dan sumber air baku berpotensi tertekan apabila curah hujan dasarian rendah terus berlanjut. BMKG mendorong upaya pengisian waduk, termasuk lewat operasi modifikasi cuaca di sejumlah daerah tangkapan air. Meski begitu, kondisi setiap waduk hanya bisa dinilai akurat berdasarkan data pengelola setempat, bukan asumsi rata-rata nasional.

Cara Mengecek Prediksi Musim Hujan di Daerah Masing-Masing

Berikut langkah sederhana untuk memantau prediksi musim di wilayah Anda:

  1. Buka situs resmi bmkg.go.id.
  2. Masuk ke menu Iklim.
  3. Pilih submenu Prediksi Musim.
  4. Baca Prediksi Musim Kemarau atau Hujan yang paling mutakhir.
  5. Cari berdasarkan nama ZOM, bukan hanya nama kota.
  6. Bandingkan dengan Prediksi Hujan Bulanan.
  7. Periksa juga Prediksi Hujan Dasarian untuk detail lebih rinci.
  8. Baca Peringatan Dini Iklim dan informasi kekeringan meteorologis.
  9. Ikuti akun atau kanal informasi Stasiun Klimatologi setempat.

Hindari mengandalkan kalender musim yang beredar viral di media sosial atau aplikasi tanpa sumber resmi BMKG.

Yang Perlu Dipersiapkan Menjelang Akhir Kemarau

  • Rumah tangga: hemat penggunaan air, periksa cadangan air bersih, dan hindari membakar sampah atau lahan.
  • Pertanian: pantau kalender tanam dan kondisi irigasi, serta ikuti arahan dinas pertanian setempat.
  • Kesehatan: cukupi kebutuhan cairan tubuh, kurangi paparan panas di siang hari, dan perhatikan kualitas udara jika ada asap kebakaran.
  • Saat pancaroba: waspadai petir, angin kencang, pohon rapuh, dan saluran air yang tersumbat.

Pancaroba sendiri adalah masa peralihan cuaca yang bisa berubah cepat—panas, hujan lokal, angin kencang, hingga petir dalam waktu berdekatan. Istilah ini bukan label resmi untuk setiap hujan yang turun setelah Agustus, dan tidak semua cuaca ekstrem otomatis disebabkan oleh pancaroba.

Mitos yang Perlu Diluruskan

Anggapan Fakta
Oktober pasti sudah musim hujan di seluruh Indonesia Oktober adalah masa transisi; awal musim hujan berbeda per ZOM
Turun hujan berarti kemarau sudah selesai Perlu keberlanjutan tiga dasarian untuk penetapan resmi
El Niño membuat Indonesia sama sekali tidak hujan El Niño menekan curah hujan, bukan meniadakannya
Semua daerah mengalami musim kemarau Ada wilayah bertipe satu musim yang tidak mengenal kemarau tegas
Puncak kemarau adalah tanda kemarau segera berakhir Puncak adalah periode hujan musiman paling rendah, bukan akhir musim
Kemarau panjang berarti nol hujan Kategori Bawah Normal berarti lebih kering, bukan tanpa hujan sama sekali

Penutup

Musim kemarau 2026 tidak berakhir serentak di seluruh Indonesia—waktunya berbeda di tiap Zona Musim, dan klaim satu tanggal nasional tidak sesuai dengan metode yang dipakai BMKG.

Puncak kemarau paling luas terjadi pada Agustus, masih cukup signifikan pada September, sebelum curah hujan berpeluang menguat secara bertahap pada Oktober-November. Kombinasi El Niño yang sangat kuat dan peluang IOD positif menjadi faktor utama mengapa banyak ZOM diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dan durasi kemarau lebih panjang dari normal—meski hal ini tidak berarti hujan lokal sama sekali tidak akan terjadi.

Karena prediksi musim dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan laut, masyarakat disarankan terus memantau pembaruan Prediksi Musim, Prediksi Curah Hujan, serta Peringatan Dini Iklim melalui kanal resmi BMKG—terutama sebelum menentukan jadwal tanam, perjalanan, atau kegiatan lain yang bergantung pada kondisi cuaca.