Apa itu danau gletser? Istilah ini merujuk pada badan air alami yang terbentuk akibat proses glasial, dengan sumber air yang umumnya berasal dari lelehan es, salju, maupun hujan. Danau tersebut bisa berada di depan gletser, di sisi gletser, bahkan di atas permukaan es.
Keberadaan danau gletser sebenarnya tidak otomatis berarti bencana. Sebagian danau dapat bertahan relatif stabil dalam waktu lama. Risiko muncul ketika volume air meningkat, bendungan alaminya tidak stabil, lereng di sekitarnya rawan longsor, atau terjadi mekanisme yang menyebabkan air keluar secara tiba-tiba.
Salah satu ancaman yang paling banyak dibahas adalah Glacial Lake Outburst Flood atau GLOF. Fenomena ini dapat mengubah danau yang semula tenang menjadi sumber banjir bandang yang membawa air, lumpur, batu, sedimen, es, hingga puing ke wilayah hilir.
Apa Itu Danau Gletser?
Danau gletser adalah kumpulan air alami yang terbentuk atau mendapatkan pasokan utama dari proses yang berkaitan dengan gletser. Danau ini tidak selalu berupa genangan air yang berada di atas bongkahan es.
Berdasarkan posisi dan material yang menahannya, danau gletser dapat ditemukan di sejumlah lokasi, antara lain:
- Di depan ujung gletser atau proglacial lake.
- Di permukaan gletser atau supraglacial lake.
- Di belakang punggungan moraine.
- Di balik tubuh es yang membendung lembah.
- Di cekungan batuan yang terbentuk akibat erosi gletser.
Satu danau bahkan dapat masuk ke beberapa kategori sekaligus. Misalnya, danau proglacial yang berada di depan gletser dapat sekaligus merupakan moraine-dammed lake apabila airnya tertahan oleh material moraine.
Bagaimana Danau Gletser Terbentuk?
Pembentukan danau gletser sangat berkaitan dengan dinamika gletser. Salah satu proses yang umum terjadi adalah ketika gletser yang sebelumnya memenuhi lembah mengalami penipisan dan mundur.
Saat bergerak, gletser mengikis batuan sekaligus membawa berbagai material seperti pasir, kerikil, lumpur, hingga bongkahan batu. Material tersebut kemudian dapat tertinggal di sekitar gletser dan membentuk punggungan yang disebut moraine.
Ketika gletser mundur, ruang yang sebelumnya dipenuhi es menjadi cekungan. Air lelehan es, salju, dan hujan kemudian mengisi cekungan tersebut. Jika terdapat moraine, batuan, atau tubuh es yang menghalangi aliran keluar, terbentuklah danau.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai:
Gletser mundur → cekungan terbuka → air terkumpul → air tertahan → danau berkembang.
Danau di atas gletser memiliki proses berbeda. Genangan tersebut dapat terbentuk akibat pencairan es yang tidak merata dan perubahan sistem drainase di permukaan maupun bagian dalam gletser.
Apa Itu Moraine?
Moraine merupakan kumpulan material yang dibawa, dipindahkan, atau ditinggalkan oleh gletser. Materialnya dapat berupa lanau, pasir, kerikil, batu hingga bongkahan berukuran besar.
Dalam pembentukan danau gletser, dua jenis moraine yang penting adalah end moraine dan lateral moraine.
End Moraine
End moraine berada di bagian depan atau ujung gletser. Ketika gletser mundur, material ini dapat membentuk semacam punggungan yang menahan air dan menghasilkan danau proglacial.
Lateral Moraine
Lateral moraine terbentuk di sisi gletser. Material ini dapat memiliki lereng cukup curam sehingga berpotensi mengalami longsor.
Moraine juga dapat mengandung sisa es di dalam materialnya. Ketika es tersebut mencair, kondisi material dapat berubah, termasuk kekuatan dan porositasnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penilaian stabilitas bendungan alami.
Mengapa Moraine Bisa Menjadi Bendungan Danau?
Moraine dapat berfungsi sebagai bendungan alami ketika punggungannya menghalangi aliran air keluar dari cekungan. Air kemudian tertampung di belakangnya dan membentuk moraine-dammed lake.
Namun, struktur tersebut berbeda dengan bendungan buatan. Moraine umumnya tersusun dari material yang tidak terkonsolidasi sempurna dan dapat memiliki lereng curam. Air juga dapat merembes melalui celah di antara material.
Karena itu, moraine dapat mengalami erosi permukaan, pengikisan internal, hingga kerusakan akibat air yang melampaui puncaknya.
Jenis Danau Gletser Berdasarkan Lokasi dan Bendungan
| Jenis | Karakteristik | Material Penahan | Risiko Umum |
|---|---|---|---|
| Moraine-dammed lake | Berada di belakang moraine | Sedimen glasial | Dapat rentan terhadap erosi dan longsor |
| Ice-dammed lake | Air tertahan oleh tubuh gletser | Es | Dapat mengalami drainase cepat |
| Proglacial lake | Berada di depan gletser | Moraine, es, batuan atau kombinasi | Bergantung pada jenis bendungan |
| Supraglacial lake | Berada di atas gletser | Depresi pada es | Dapat berubah dan mengalir dengan cepat |
| Bedrock-dammed lake | Berada di cekungan batuan | Batuan dasar | Umumnya lebih stabil |
Klasifikasi tersebut tidak berarti setiap jenis memiliki tingkat bahaya yang sama. Kondisi geologi, volume air, stabilitas lereng, serta keberadaan masyarakat dan infrastruktur di hilir ikut menentukan tingkat risikonya.
Apakah Semua Danau Gletser Berbahaya?
Jawabannya tidak.
Danau gletser baru menjadi persoalan serius apabila potensi bahaya tersebut berhadapan dengan masyarakat, jalan, jembatan, pembangkit listrik, permukiman, atau infrastruktur lain yang berada di jalur aliran.
Dalam kajian kebencanaan, hal ini berkaitan dengan perbedaan antara hazard dan risk. Sebuah danau dapat memiliki hazard tinggi, tetapi risikonya relatif rendah apabila tidak terdapat manusia atau infrastruktur penting di wilayah yang berpotensi terdampak.
Sebaliknya, danau yang ukurannya lebih kecil tetap dapat menimbulkan kerusakan besar jika bendungannya tidak stabil dan berada di atas lembah yang dihuni banyak orang.
Apa Itu GLOF?
Glacial Lake Outburst Flood atau GLOF adalah pelepasan air secara mendadak atau sangat cepat dari danau yang berkaitan dengan gletser.
Istilah ini sering disalahartikan sebagai “danau gletser meledak”. Padahal, GLOF bukan ledakan seperti bahan peledak. Fenomenanya lebih tepat dipahami sebagai keluarnya air dalam jumlah besar melalui kegagalan bendungan, overtopping, pembukaan saluran, atau proses drainase mendadak.
Setelah celah terbentuk, air dapat mengikis material bendungan. Celah tersebut kemudian semakin besar sehingga debit air yang keluar meningkat.
Bagaimana Danau Gletser Bisa Memicu Banjir Bandang?
Proses GLOF biasanya melibatkan beberapa tahapan.
1. Air Terkumpul
Lelehan gletser, salju, dan hujan mengisi cekungan hingga terbentuk danau. Dalam kondisi tertentu, pecahan es dari gletser juga dapat masuk ke dalam danau.
2. Volume Air Bertambah
Ketika danau membesar, jarak antara permukaan air dan puncak bendungan atau freeboard dapat semakin berkurang.
Namun, volume bukan satu-satunya faktor. Bendungan yang melemah tetap dapat menjadi sumber bahaya meskipun volume air tidak berada pada tingkat ekstrem.
3. Terjadi Pemicu
Pemicu dapat berupa longsor, jatuhan batuan, avalanche es atau salju, hujan ekstrem, rembesan, pencairan material beku, hingga perubahan sistem drainase.
4. Air Melampaui atau Merusak Bendungan
Gelombang yang terbentuk di danau dapat melampaui puncak bendungan. Air kemudian mulai mengikis material pada bagian luar.
5. Breach Semakin Besar
Air yang mengalir melalui celah mempercepat erosi. Celah menjadi semakin dalam dan lebar sehingga debit air meningkat.
Ini menciptakan mekanisme umpan balik:
Air keluar → erosi meningkat → celah membesar → debit meningkat → erosi semakin kuat.
6. Air Bergerak ke Hilir
Setelah keluar dari danau, air mengalir melalui lembah yang umumnya curam dan sempit. Kondisi topografi tersebut dapat mempertahankan energi aliran.
7. Material Ikut Terseret
Aliran tidak hanya membawa air. Sedimen, batu, lumpur, es, vegetasi, dan puing dapat ikut terbawa.
Akibatnya, GLOF dapat berkembang menjadi banjir yang sangat kaya material atau bahkan dalam kondisi tertentu berperilaku seperti debris flow.
Apa yang Bisa Membuat Bendungan Danau Gletser Gagal?
Ada sejumlah mekanisme yang dapat menyebabkan kegagalan bendungan alami, di antaranya:
- Longsor, ketika material dari lereng jatuh ke danau dan mendorong air.
- Rockfall, berupa jatuhan batuan yang dapat menghasilkan gelombang.
- Ice avalanche, ketika massa es dari gletser jatuh ke danau.
- Snow avalanche, yang dapat mendorong air apabila volumenya cukup besar.
- Hujan ekstrem, yang meningkatkan masukan air sekaligus dapat melemahkan lereng.
- Overtopping, ketika air atau gelombang melewati puncak bendungan.
- Erosi, yang memperbesar saluran keluar air.
- Seepage dan piping, ketika air merembes dan membawa material halus dari dalam bendungan.
- Pencairan es di dalam moraine, yang dapat mengubah struktur material.
- Perubahan permafrost, yang dapat mengurangi kekuatan material beku.
- Gempa bumi, yang dalam kondisi tertentu dapat memicu longsor atau memengaruhi struktur bendungan.
Tidak semua faktor tersebut muncul dalam satu kejadian. Setiap GLOF memiliki mekanisme yang dapat berbeda tergantung kondisi lingkungan setempat.
Bagaimana Longsor Bisa Menghasilkan Gelombang?
Ketika batuan, es, atau moraine masuk ke danau dengan cepat, massa tersebut mendorong air dan menghasilkan displacement wave atau gelombang perpindahan air.
Media terkadang menyebutnya sebagai gelombang yang menyerupai tsunami. Namun, fenomena ini berbeda dari tsunami laut yang umumnya berkaitan dengan gangguan di dasar laut.
Jika gelombang cukup tinggi hingga mencapai puncak moraine, air dapat meluap. Proses tersebut kemudian memulai erosi dan berpotensi berkembang menjadi breach.
Apa Itu Overtopping?
Overtopping adalah kondisi ketika air atau gelombang melewati bagian atas bendungan.
Pada bendungan alami yang tersusun dari moraine, air yang melimpas dapat mengikis material. Jika erosi terus berlangsung, terbentuk saluran yang semakin dalam hingga bendungan mengalami kegagalan.
Karena itu, overtopping dapat menjadi salah satu tahap penting dalam perubahan dari danau yang tertahan menjadi banjir GLOF.
Apa Itu Breach?
Breach adalah celah atau bagian bendungan yang mengalami kegagalan dan menjadi jalur keluarnya air.
Pada moraine, breach dapat berkembang secara progresif. Air yang keluar mengikis material sehingga celah semakin besar. Debit kemudian meningkat dan mempercepat proses erosi.
Proses tersebut dapat berlangsung sangat cepat, terutama ketika terdapat volume air besar dan kemiringan medan yang tinggi.
Apa Bedanya GLOF dengan Banjir Bandang Akibat Hujan?
| Aspek | GLOF | Banjir Bandang Hujan |
|---|---|---|
| Sumber air | Air yang telah tertampung di danau gletser | Hujan deras di DAS |
| Pemicu | Kegagalan bendungan, gelombang atau drainase mendadak | Intensitas dan durasi hujan |
| Lokasi awal | Danau di kawasan glasial | Lereng dan sungai |
| Material | Dapat membawa sedimen, batu, es dan puing | Bergantung kondisi DAS |
| Pemantauan | Sensor danau, satelit dan sistem peringatan | Pos hujan dan sistem banjir |
Kedua jenis banjir tersebut juga dapat saling berkaitan. Hujan ekstrem, misalnya, dapat meningkatkan muka danau sekaligus memicu longsor di sekitar kawasan glasial.
Mengapa GLOF Bisa Sangat Merusak?
Daya rusak GLOF tidak hanya ditentukan oleh jumlah air. Kecepatan aliran, kemiringan lembah, kondisi sungai, serta material yang ikut terseret dapat memperbesar dampaknya.
Aliran dapat:
- merusak jembatan;
- menggerus jalan dan fondasi;
- menimbun lahan pertanian;
- merusak permukiman;
- membawa batu dan lumpur dalam jumlah besar;
- mengganggu pembangkit listrik tenaga air;
- menurunkan kualitas air di wilayah hilir.
Dalam beberapa kasus, material yang terbawa dapat menyumbat jembatan atau bagian sempit lembah. Air kemudian tertahan sementara dan dapat kembali dilepaskan ketika penghalang tersebut runtuh.
Rangkaian semacam ini dikenal sebagai cascading hazard, yaitu satu bahaya memicu bahaya lainnya.
Mengapa Wilayah Jauh dari Danau Tetap Bisa Terdampak?
Air GLOF mengikuti jaringan sungai menuju wilayah hilir. Lembah yang sempit dan curam dapat membantu mempertahankan energi aliran.
Namun, tidak ada angka jarak yang berlaku universal. Pernyataan bahwa seluruh wilayah dalam radius tertentu pasti terdampak tidak dapat digunakan tanpa kajian khusus.
Jarak dan tingkat kerusakan dipengaruhi volume air, topografi, kondisi sungai, sedimen, keberadaan bendungan atau jembatan, serta karakteristik wilayah hilir.
Apa Hubungan Perubahan Iklim dengan Danau Gletser?
Perubahan iklim dapat memengaruhi lingkungan glasial melalui peningkatan suhu, penipisan gletser, mundurnya ujung gletser, perubahan salju dan es, serta perubahan stabilitas lereng dan material beku.
Ketika gletser mundur, cekungan baru dapat terbuka dan kemudian terisi air. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah danau proglacial mengalami perkembangan seiring menyusutnya gletser.
Namun, penting untuk membedakan antara faktor jangka panjang dan pemicu langsung.
Kenaikan suhu dan mundurnya gletser dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan danau. Sementara itu, GLOF tertentu tetap membutuhkan pemicu langsung, seperti longsor, avalanche, hujan ekstrem, atau kegagalan drainase.
Jadi, tidak tepat menyebut perubahan iklim sebagai satu-satunya penyebab setiap GLOF.
Apakah Danau yang Semakin Besar Otomatis Semakin Berbahaya?
Tidak.
Risiko danau gletser merupakan kombinasi dari banyak faktor, seperti:
- volume dan kedalaman danau;
- kecepatan pertumbuhan;
- jenis bendungan;
- freeboard;
- kondisi moraine;
- stabilitas lereng;
- keberadaan gletser di sekitar danau;
- potensi longsor atau avalanche;
- jumlah penduduk di hilir;
- keberadaan jalan, jembatan, PLTA dan infrastruktur lainnya.
Dengan kata lain, ukuran danau saja tidak cukup untuk menentukan tingkat risikonya.
Memahami Hazard, Exposure, Vulnerability, dan Risk
| Istilah | Pengertian Sederhana | Contoh |
|---|---|---|
| Hazard | Potensi fenomena merusak | Danau dengan bendungan lemah |
| Exposure | Orang atau aset yang berada di jalur bahaya | Desa atau jembatan di hilir |
| Vulnerability | Tingkat kerentanan terhadap kerusakan | Rumah rapuh dan minim akses evakuasi |
| Risk | Potensi kerugian akibat bahaya | Kerusakan dan korban di wilayah hilir |
Kerangka ini menjelaskan mengapa danau besar tidak selalu memiliki risiko terbesar. Sebaliknya, danau yang lebih kecil dapat memiliki risiko tinggi jika berada di atas kawasan yang padat penduduk.
Di Mana Danau Gletser Banyak Ditemukan?
Danau gletser dapat ditemukan di berbagai kawasan yang memiliki gletser, termasuk Greenland, High Mountain Asia, Alaska, Kanada, dan Andes.
Jumlah yang tercatat dapat berbeda antarpenelitian karena setiap inventaris menggunakan metode, resolusi citra, dan ambang ukuran danau yang berbeda.
Salah satu kajian pemetaan pada 2020 mengidentifikasi 71.508 danau gletser dengan luas lebih dari 0,002 kilometer persegi. Kajian lain yang diterbitkan dalam Nature Reviews Earth & Environment pada 2024 menyebut jumlah lebih dari 110.000 danau dengan luas total sekitar 15.000 kilometer persegi.
Perbedaan angka tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya kesalahan. Metodologi pemetaan yang berbeda dapat menghasilkan inventaris yang berbeda pula.
Mengapa Himalaya Sering Dikaitkan dengan GLOF?
Kawasan Himalaya dan Hindu Kush Himalaya memiliki kombinasi kondisi yang membuat isu GLOF menjadi penting. Kawasan tersebut memiliki banyak gletser, danau yang berkembang, medan pegunungan yang curam, serta permukiman dan infrastruktur yang berada di lembah.
ICIMOD memperkirakan terdapat lebih dari 25.000 danau gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya.
Inventaris bersama ICIMOD dan UNDP untuk DAS Koshi, Gandaki, dan Karnali juga mengidentifikasi 47 danau yang berpotensi berbahaya, terdiri dari 21 di Nepal, 25 di Tibet yang alirannya masuk Nepal, dan satu di India.
Angka yang lebih besar mengenai danau berbahaya di kawasan Himalaya perlu dilihat berdasarkan cakupan wilayah dan metode kajiannya. Angka tersebut tidak selalu merujuk pada inventaris yang sama.
Contoh GLOF yang Pernah Terjadi
Beberapa kejadian yang sering digunakan sebagai contoh antara lain:
| Lokasi | Tahun | Pemicu/Mekanisme | Dampak |
|---|---|---|---|
| Palcacocha, Peru | 1941 | Avalanche es, gelombang dan kegagalan moraine | Banjir menuju Huaraz |
| Dig Tsho, Nepal | 1985 | Avalanche es/batuan dan breach moraine | PLTA dan jembatan rusak |
| Tsho Rolpa, Nepal | — | Kasus mitigasi | Muka air diturunkan dan EWS diterapkan |
| South Lhonak, India | 2023 | Longsor moraine dan gelombang | Kerusakan infrastruktur di sepanjang Teesta |
| Thame, Nepal | 2024 | Avalanche/batuan dan GLOF beruntun | Kerusakan berat di Desa Thame |
Kasus South Lhonak, Sikkim, 2023
Salah satu contoh penting adalah kejadian di South Lhonak, Sikkim, India, pada 3 Oktober 2023.
South Lhonak merupakan danau proglacial yang dibendung moraine di kawasan Himalaya timur. Danau tersebut berkembang seiring perubahan dan mundurnya gletser selama beberapa dekade.
Dalam rekonstruksi yang dikutip sumber, sekitar 14,7 juta meter kubik material moraine lateral yang mengandung material beku mengalami longsor ke danau. Peristiwa tersebut menghasilkan gelombang perpindahan sekitar 20 meter.
Gelombang kemudian melampaui dan mengikis moraine frontal hingga terbentuk breach. Sekitar 50 juta meter kubik air terlepas. Salah satu rekonstruksi yang dikutip memperkirakan debit puncak mencapai sekitar 48.500 meter kubik per detik.
Aliran selanjutnya membawa sedimen dalam jumlah sangat besar dan memicu longsor sekunder. Dampaknya menjalar sepanjang Sungai Teesta hingga ratusan kilometer dan menyebabkan kerusakan pada berbagai infrastruktur.
Angka volume dan debit dapat berbeda dalam penelitian karena penggunaan model serta data topografi yang berbeda. Namun, rangkaian proses utamanya relatif konsisten: longsor → gelombang → overtopping → breach → GLOF → erosi dan sedimentasi → dampak berantai.
Bagaimana Ilmuwan Mengetahui Danau Gletser Berisiko?
Penilaian tidak hanya melihat luas permukaan danau.
Para peneliti dapat mempertimbangkan:
- perubahan luas danau;
- perkiraan volume;
- jenis bendungan;
- tinggi freeboard;
- kemiringan moraine;
- kondisi outlet;
- tanda-tanda rembesan;
- stabilitas lereng;
- kedekatan dengan gletser;
- potensi avalanche;
- jaringan sungai;
- jumlah penduduk di wilayah hilir;
- keberadaan infrastruktur penting.
Dengan pendekatan tersebut, danau yang mengalami pertumbuhan cepat dapat diprioritaskan untuk pemantauan lebih lanjut.
Bagaimana Danau Gletser Dipantau dari Satelit?
Satelit menjadi salah satu alat penting untuk mengamati perubahan kawasan glasial.
Citra optik seperti Landsat dan Sentinel-2 dapat digunakan untuk melihat perubahan luas danau serta perkembangan gletser. Citra resolusi tinggi membantu mengamati outlet, retakan, dan perubahan pada moraine.
Sementara itu, radar atau Synthetic Aperture Radar (SAR) dapat membantu pengamatan ketika wilayah pegunungan tertutup awan.
Model elevasi digital atau DEM juga dapat digunakan untuk memahami topografi dan menyusun pemodelan jalur aliran.
Meski begitu, satelit tidak dapat digunakan untuk memastikan tanggal dan jam terjadinya GLOF.
Apakah GLOF Bisa Diprediksi?
Ilmuwan dapat mengidentifikasi danau yang memiliki potensi bahaya, menyusun skenario kegagalan bendungan, memodelkan jalur aliran, serta memperkirakan wilayah yang mungkin terdampak.
Namun, hal tersebut berbeda dengan memprediksi secara tepat kapan GLOF akan terjadi.
Sistem peringatan dini lebih diarahkan untuk mendeteksi perubahan atau pemicu yang sedang berlangsung sehingga masyarakat memiliki waktu untuk melakukan evakuasi.
Bagaimana Sistem Peringatan Dini GLOF Bekerja?
Sistem peringatan dini dapat terdiri dari beberapa komponen, seperti:
- Sensor tinggi muka air.
- Sensor debit atau tekanan sungai.
- Sensor cuaca.
- Sistem transmisi data.
- Ambang batas peringatan.
- Sirene.
- Komunikasi kepada otoritas dan warga.
- Jalur evakuasi.
- Simulasi dan latihan.
Teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu memahami arti peringatan, mengetahui jalur evakuasi, serta mengikuti latihan secara berkala.
Bagaimana Risiko GLOF Bisa Dikurangi?
Mitigasi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, tergantung karakteristik danau dan kondisi wilayah.
Pemantauan
Satelit, survei lapangan, sensor muka air, serta pemantauan lereng dapat membantu mendeteksi perubahan.
Sistem Peringatan Dini
Sirene dan sistem komunikasi dapat memberikan waktu bagi masyarakat untuk bergerak menuju lokasi aman.
Penurunan Muka Air
Pada danau tertentu, muka air dapat diturunkan secara terkendali untuk meningkatkan freeboard. Contohnya, Tsho Rolpa di Nepal pernah mengalami penurunan muka air lebih dari 3 meter pada 2000, sedangkan Imja Tsho diturunkan sekitar 3,4 meter pada 2016.
Pengelolaan Outlet
Pengelolaan saluran keluar dapat membantu mengurangi erosi yang tidak terkendali. Namun, intervensi semacam ini membutuhkan survei dan rekayasa profesional.
Tata Ruang
Pembangunan infrastruktur penting perlu mempertimbangkan peta bahaya dan jalur aliran.
Edukasi dan Evakuasi
Masyarakat perlu mengetahui zona bahaya, jalur evakuasi, sistem peringatan, serta prosedur darurat yang berlaku di wilayahnya.
Apakah Danau Gletser Bisa Dikeringkan?
Tidak semua danau gletser perlu atau memungkinkan untuk dikeringkan sepenuhnya.
Pengeringan total dapat menghadapi kendala teknis, lingkungan, dan biaya. Karena itu, pada kasus tertentu, pendekatan yang digunakan adalah menurunkan muka air secara terkontrol.
Setiap intervensi harus didasarkan pada survei, pemodelan, kajian geoteknik, serta perencanaan oleh tenaga profesional.
Apa Tanda yang Dipantau pada Danau Berisiko?
Beberapa indikator yang dapat menjadi perhatian dalam pemantauan antara lain:
- pertumbuhan luas danau;
- perubahan outlet;
- retakan pada moraine;
- longsoran baru;
- pergerakan lereng;
- perubahan muka air;
- peningkatan erosi;
- peningkatan rembesan;
- perubahan kondisi gletser.
Indikator tersebut berguna untuk menentukan prioritas pemantauan, tetapi bukan berarti dapat digunakan untuk memastikan waktu GLOF secara tepat.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat di Wilayah Risiko GLOF?
Masyarakat yang tinggal di kawasan berpotensi terdampak perlu mengikuti arahan otoritas setempat.
Secara umum, langkah yang penting adalah mengetahui zona bahaya, memahami jalur evakuasi, mengikuti peringatan resmi, menjauhi sungai ketika alarm berbunyi, dan bergerak menuju lokasi yang telah ditentukan dalam rencana evakuasi.
Tidak ada satu jarak evakuasi atau ketinggian aman yang berlaku untuk semua wilayah. Setiap lembah memiliki karakteristik topografi dan ancaman yang berbeda.
Danau Gletser vs Danau Vulkanik
| Aspek | Danau Gletser | Danau Vulkanik |
|---|---|---|
| Pembentukan | Proses glasial | Kawah, kaldera atau aktivitas vulkanik |
| Lingkungan | Kawasan bergletser | Kawasan gunung api |
| Material penahan | Moraine, es atau batuan | Lava dan material vulkanik |
| Bahaya utama | GLOF dan banjir bermuatan debris | Letusan, lahar dan bahaya vulkanik lainnya |
Keduanya sama-sama merupakan badan air alami, tetapi proses pembentukan dan jenis bahayanya berbeda.
GLOF vs LLOF, Apa Bedanya?
GLOF berasal dari danau yang berkaitan dengan gletser.
Sementara itu, Landslide-dammed Lake Outburst Flood (LLOF) berasal dari danau yang terbentuk setelah longsor membendung sungai. Ketika bendungan longsor tersebut gagal, air dan material dapat mengalir ke wilayah hilir.
Mekanisme fisiknya dapat terlihat serupa karena sama-sama melibatkan overtopping, breach dan banjir bandang. Namun, asal danau serta karakter material bendungannya berbeda.
Apakah GLOF Sama dengan Jökulhlaup?
Tidak selalu.
Jökulhlaup merupakan istilah Islandia yang secara historis digunakan untuk menggambarkan banjir mendadak dari sistem gletser. Istilah ini dapat mencakup pelepasan air dari danau di bawah es maupun banjir yang berkaitan dengan aktivitas geotermal atau letusan di bawah es.
GLOF lebih sering digunakan untuk pelepasan air secara cepat dari danau yang berada di depan atau tepi gletser akibat kegagalan sistem penahannya.
Keduanya memiliki wilayah makna yang tumpang tindih, tetapi tidak selalu identik.
Apakah Indonesia Memiliki Danau Gletser?
Indonesia masih memiliki sisa gletser tropis di kawasan Puncak Jaya, Papua.
Menurut informasi dalam sumber, studi berbasis Landsat pada periode 1980–2024 mencatat penyusutan luas es sekitar 97 persen. Pada 2024, luas es yang tersisa diperkirakan sekitar 0,19 kilometer persegi pada dua gletser, sementara empat gletser lainnya telah menghilang.
Kajian The Cryosphere 2025 memperkirakan luas es yang tersisa sekitar 0,165 kilometer persegi pada 2024 dan menilai sisa es sangat mungkin hilang sekitar 2030 apabila laju penyusutan bertahan.
Nama Idenburg dalam sejumlah laporan dikaitkan dengan genangan atau danau di kompleks Puncak Jaya. Namun, jumlah es yang tersisa kini sangat kecil.
Berdasarkan data yang tersedia dalam sumber, GLOF berskala seperti yang menjadi perhatian di Himalaya bukan merupakan ancaman utama di Indonesia. Risiko banjir bandang di Indonesia jauh lebih sering berkaitan dengan hujan ekstrem, longsor, bendungan alam akibat longsor, serta lahar.
Kesimpulan
Jadi, apa itu danau gletser? Danau gletser adalah badan air yang terbentuk atau mendapatkan pasokan air dari proses glasial. Danau tersebut dapat berada di depan, di samping, di atas, maupun di sekitar gletser.
Danau gletser tidak otomatis berbahaya. Risiko meningkat ketika danau memiliki bendungan alami yang rentan, lereng tidak stabil, volume air besar, atau berada di atas wilayah yang memiliki banyak penduduk dan infrastruktur.
Bahaya terbesar muncul ketika terjadi GLOF, yaitu keluarnya air danau secara cepat akibat kegagalan bendungan, overtopping, perubahan drainase, atau mekanisme lainnya. Aliran kemudian dapat membawa sedimen, batu, lumpur, es dan puing sehingga dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar genangan air.
Perubahan iklim dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan danau gletser dan perubahan lingkungan pegunungan, tetapi pemicu langsung setiap GLOF tetap harus dianalisis berdasarkan kejadian dan kondisi setempat.
Karena itu, pemantauan, pemetaan bahaya, sistem peringatan dini, tata ruang, mitigasi teknis, dan kesiapan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko GLOF.
