El Niño 2026 menjadi perhatian karena fenomena iklim ini telah berkembang hingga kategori sangat kuat berdasarkan pemantauan BMKG. Pada Dasarian III Agustus 2026, indeks ENSO rata-rata tiga bulanan Juni–Juli–Agustus (JJA) tercatat 2,2. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,83 derajat Celsius pada Agustus.

Lalu, apa itu El Niño dan mengapa fenomena ini bisa berdampak terhadap Indonesia? El Niño bukan sekadar kondisi cuaca panas. Fenomena ini merupakan bagian dari El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yaitu interaksi antara laut dan atmosfer di kawasan Pasifik tropis yang dapat mengubah pola angin, pembentukan awan, serta distribusi hujan.

Dampaknya juga tidak sama di setiap daerah. Ketika El Niño bertepatan dengan musim kemarau, sebagian wilayah Indonesia berpeluang mengalami curah hujan lebih rendah, kekeringan yang lebih panjang, tekanan terhadap ketersediaan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Namun, hujan lokal tetap mungkin terjadi meski El Niño sedang kuat.

Apa Itu El Niño?

El Niño adalah fenomena pemanasan tidak biasa pada suhu muka laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang kemudian berinteraksi dengan atmosfer. Perubahan tersebut dapat menggeser pola sirkulasi udara, pertumbuhan awan, dan distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi normal, air laut yang lebih hangat cenderung terkumpul di Pasifik barat, termasuk di sekitar Indonesia, Filipina, dan Australia utara. Saat El Niño berkembang, kumpulan air hangat tersebut bergeser ke arah timur.

Perpindahan ini turut mengubah pusat konveksi atau wilayah tempat udara lembap naik dan membentuk awan hujan. Akibatnya, sebagian wilayah Indonesia dapat mengalami penurunan peluang hujan, terutama pada periode musim kemarau.

Jadi, apa itu El Niño jika dijelaskan secara sederhana? El Niño merupakan perubahan besar dalam sistem laut-atmosfer Pasifik yang dapat mengubah peluang terjadinya pola cuaca dan musim di berbagai wilayah.

Apa Itu ENSO?

ENSO atau El Niño–Southern Oscillation merupakan fenomena iklim yang melibatkan interaksi antara Samudra Pasifik tropis dan atmosfer di atasnya.

ENSO memiliki tiga fase utama:

Fase Kondisi umum
El Niño Pasifik tengah dan timur ekuator lebih hangat dari normal disertai respons atmosfer
Netral Kondisi tidak memenuhi kriteria El Niño maupun La Niña
La Niña Pasifik tengah dan timur ekuator lebih dingin dari normal disertai respons atmosfer

Hal penting yang perlu dipahami, El Niño tidak sama dengan musim kemarau, begitu pula La Niña tidak identik dengan musim hujan. ENSO bekerja pada skala iklim dan memengaruhi peluang suatu pola musim, bukan menentukan kondisi cuaca setiap hari.

Apa Penyebab El Niño?

El Niño tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Fenomena ini terbentuk melalui interaksi dan umpan balik antara laut serta atmosfer.

1. Melemahnya angin pasat

Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang ekuator Pasifik. Angin tersebut membantu mendorong air permukaan yang hangat ke Pasifik barat.

Ketika angin pasat melemah atau mengalami perubahan tertentu, air hangat dapat bergerak ke arah timur sehingga suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan timur meningkat.

2. Perubahan suhu muka laut

Pemanasan wilayah Niño 3.4 meningkatkan jumlah panas dan uap air yang masuk ke atmosfer. Kondisi tersebut dapat menggeser pusat konveksi dari kawasan sekitar Indonesia menuju Pasifik tengah dan timur.

3. Perubahan termoklin

Termoklin merupakan lapisan transisi antara air permukaan yang relatif hangat dan air laut dalam yang lebih dingin.

Ketika El Niño berkembang, termoklin di Pasifik timur biasanya menjadi lebih dalam. Akibatnya, air dingin dari lapisan bawah lebih sulit naik ke permukaan sehingga pemanasan di kawasan tersebut dapat bertahan.

4. Perubahan Sirkulasi Walker

Sirkulasi Walker merupakan pola sirkulasi atmosfer di sepanjang wilayah ekuator Pasifik. Dalam kondisi normal, udara cenderung naik di Pasifik barat dan turun di Pasifik timur.

Baca Juga:  IKD Tidak Bisa Login di HP? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Saat El Niño terjadi, pola tersebut melemah atau bergeser. Udara yang turun di atas sebagian wilayah Indonesia dapat menghambat pertumbuhan awan hujan.

5. Bjerknes feedback

Proses ini merupakan salah satu mekanisme penting dalam penguatan El Niño. Ketika Pasifik timur menghangat dan angin pasat melemah, kedua kondisi tersebut dapat saling memperkuat.

Gelombang Kelvin ekuatorial juga berperan dalam perubahan kondisi laut. Gangguan di laut tersebut bergerak ke arah timur dan dapat memengaruhi kedalaman termoklin serta suhu bawah permukaan Pasifik.

Bagaimana El Niño Diukur?

Status El Niño tidak ditentukan berdasarkan seberapa panas udara yang dirasakan masyarakat di daratan.

Lembaga meteorologi memantau sejumlah indikator, termasuk anomali suhu muka laut, durasi pemanasan, angin pasat, aktivitas konveksi, serta indikator atmosfer seperti Southern Oscillation Index (SOI).

Salah satu indikator yang digunakan NOAA adalah Oceanic Niño Index (ONI), yaitu rata-rata tiga bulanan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4.

BMKG juga memantau kondisi Niño 3.4 melalui data dasarian dan bulanan serta indeks ENSO tiga bulanan.

Karena terdapat berbagai indeks, angka yang muncul dalam laporan bisa berbeda. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh dataset, periode pengamatan, dan metode perhitungan yang digunakan.

Apa Itu Niño 3.4?

Niño 3.4 merupakan wilayah pemantauan suhu muka laut di Pasifik ekuator, sekitar 5 derajat Lintang Utara hingga 5 derajat Lintang Selatan dan 170 derajat Bujur Barat hingga 120 derajat Bujur Barat.

Wilayah tersebut penting karena perubahan suhu laut di sana memiliki hubungan erat dengan respons atmosfer dan pola iklim global.

Pada Agustus 2026, BMKG mencatat anomali suhu muka laut Niño 3.4 sebesar +2,83 derajat Celsius. Pada Dasarian III Agustus, angkanya berada di +2,74 derajat Celsius.

Sementara itu, indikator dari lembaga lain dapat menghasilkan angka berbeda karena menggunakan periode dan basis data yang berbeda. Karena itu, angka El Niño sebaiknya selalu dibaca bersama nama indeks, periode, dan sumber datanya.

Seberapa Kuat El Niño 2026?

Berdasarkan pemantauan BMKG, El Niño 2026 telah mencapai kategori sangat kuat pada indeks tiga bulanan JJA.

Indikator Nilai Periode
Niño 3.4 SSTA dasarian +2,74°C Dasarian III Agustus 2026
Niño 3.4 SSTA bulanan +2,83°C Agustus 2026
Indeks ENSO tiga bulanan 2,2 JJA 2026
ONI NOAA +1,80°C Juli 2026

NOAA pada 13 Agustus 2026 juga menyatakan El Niño sedang menguat dan memberikan peluang lebih dari 90 persen untuk kategori sangat kuat pada musim gugur hingga musim dingin belahan bumi utara.

Namun, istilah seperti “terkuat sepanjang sejarah” masih harus digunakan secara hati-hati. Intensitas akhir baru dapat dibandingkan secara tepat setelah periode puncak dan indikator yang digunakan sudah jelas.

Kapan El Niño 2026 Mulai Berkembang?

Perkembangan El Niño 2026 berlangsung cukup cepat.

Pada awal 2026, kondisi ENSO masih mengalami transisi setelah La Niña berakhir. BMKG mencatat La Niña berakhir pada Februari 2026. Pada Maret–April, kondisi berada dalam fase netral.

Memasuki Mei, tanda-tanda El Niño mulai semakin jelas. NOAA kemudian mengeluarkan El Niño Advisory pada Juni.

BMKG pada Juni juga memperingatkan adanya El Niño kuat dan potensi dampaknya terhadap musim kemarau. Kondisi kemudian semakin menguat pada Juli dan Agustus hingga indeks JJA mencapai 2,2.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa prakiraan iklim memang dapat diperbarui ketika observasi terbaru menunjukkan perubahan kondisi laut dan atmosfer.

Sampai Kapan El Niño 2026 Diperkirakan Bertahan?

El Niño 2026 diperkirakan tidak langsung berakhir ketika musim kemarau Indonesia selesai.

BMKG, NOAA, dan WMO sama-sama memberikan indikasi bahwa fenomena tersebut dapat bertahan hingga akhir 2026 dan berlanjut ke awal 2027, meskipun waktu pelemahan serta puncaknya dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi Pasifik.

Bagi Indonesia, persoalan utamanya bukan hanya berapa lama El Niño bertahan, tetapi kapan El Niño bertepatan dengan musim kemarau.

Ketika musim hujan mulai kembali di berbagai wilayah, dampak El Niño terhadap kekeringan Indonesia dapat berkurang meskipun fenomenanya masih aktif di Pasifik.

Mengapa El Niño Mengurangi Hujan di Indonesia?

Ketika Pasifik tengah dan timur menghangat, pusat konveksi atmosfer cenderung bergeser ke arah timur. Perubahan tersebut memengaruhi Sirkulasi Walker.

Di atas sebagian wilayah Indonesia, udara dapat lebih dominan bergerak turun. Kondisi ini menghambat pembentukan awan sehingga peluang hujan berkurang.

Namun, istilah “curah hujan di bawah normal” tidak berarti Indonesia sama sekali tidak mendapatkan hujan.

Hujan tetap dapat terjadi karena cuaca harian dipengaruhi banyak faktor lain, seperti suhu muka laut sekitar Indonesia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial, konvergensi lokal, topografi, serta gangguan atmosfer skala sinoptik.

Apakah El Niño Membuat Indonesia Tidak Hujan?

Tidak.

El Niño tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami kondisi tanpa hujan. Fenomena ini meningkatkan peluang kondisi yang lebih kering pada skala musiman.

Baca Juga:  Cara Transaksi Menggunakan PayPal untuk Bayar, Transfer, dan Tarik Dana

Karena itu, hujan deras di suatu wilayah tidak otomatis menunjukkan bahwa El Niño telah berakhir. Begitu pula satu hari yang sangat panas tidak cukup untuk menentukan status El Niño.

Pada awal September 2026, BMKG masih memprakirakan adanya hujan lokal dan bahkan hujan lebat di beberapa wilayah, meskipun kondisi umum di banyak daerah masih kering.

Dampak El Niño 2026 terhadap Indonesia

Dampak El Niño paling terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.

Curah hujan lebih rendah

Pada Dasarian III Agustus 2026, BMKG memprakirakan sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia berpeluang mendapatkan curah hujan rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian.

Sekitar 13,38 persen wilayah diprakirakan berada pada kategori menengah, yakni 50–150 milimeter.

Musim kemarau lebih kering

Sebagian besar zona musim atau ZOM diprakirakan mengalami kondisi kemarau di bawah normal. Di sejumlah wilayah, durasi kemarau juga dapat lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Pada awal September, sekitar 81 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Kekeringan meteorologis

Defisit hujan dalam periode tertentu dapat menyebabkan kekeringan meteorologis. Kondisi ini berbeda dengan kekeringan pertanian maupun hidrologis.

Kekeringan pertanian berkaitan dengan kelembapan tanah dan kebutuhan tanaman, sedangkan kekeringan hidrologis berkaitan dengan kondisi sungai, waduk, dan air tanah.

BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I September 2026 dengan status Waspada hingga Awas di sejumlah kabupaten/kota, termasuk wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Suhu udara lebih tinggi

El Niño dapat meningkatkan peluang suhu udara lebih tinggi karena berkurangnya tutupan awan dan meningkatnya radiasi matahari di wilayah yang lebih kering.

Meski begitu, kondisi ini tidak otomatis berarti seluruh Indonesia mengalami gelombang panas. Suhu harian juga dipengaruhi musim, kondisi perkotaan, kelembapan, dan pola atmosfer setempat.

Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak

Beberapa wilayah diperkirakan lebih rentan terhadap dampak El Niño, terutama ketika bersamaan dengan musim kemarau.

Wilayah Potensi kondisi
Jawa Kemarau dan hujan bawah normal serta risiko kekeringan
Bali Kondisi lebih kering dari normal
Nusa Tenggara Risiko defisit hujan relatif tinggi
Sumatra bagian selatan Potensi kondisi lebih kering
Kalimantan bagian selatan Kekeringan dan risiko karhutla
Sulawesi Puncak kemarau di sejumlah wilayah
Maluku Sebagian wilayah memasuki puncak kemarau
Papua bagian selatan Kondisi lebih kering di sejumlah wilayah

Namun, respons setiap wilayah tidak sama. Indonesia berada di kawasan tropis yang luas dan membentang di utara serta selatan ekuator. Monsun, suhu laut lokal, topografi, serta gangguan atmosfer lainnya membuat dampak El Niño berbeda antardaerah.

El Niño dan Musim Kemarau 2026

El Niño dan musim kemarau merupakan dua hal berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niño merupakan fenomena iklim yang terjadi dalam skala beberapa tahun.

Masalah muncul ketika keduanya terjadi bersamaan.

Pada kondisi seperti itu, peluang curah hujan rendah dan periode kering dapat meningkat. Sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami awal musim hujan yang lebih lambat.

Sebagai contoh, BMKG setempat di Bengkulu pada 3 September 2026 memperkirakan musim hujan baru mulai pada Dasarian III Oktober. Waktu tersebut diperkirakan mundur sekitar tiga hingga empat dasarian dibandingkan normal.

Dampak El Niño terhadap Ketersediaan Air

Curah hujan yang lebih rendah dapat mengurangi pasokan air ke sungai, waduk, dan tanah. Pada saat yang sama, kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, dan sektor lainnya dapat meningkat.

Karena itu, pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi El Niño.

BMKG juga menyoroti pentingnya pengelolaan waduk serta langkah antisipasi seperti operasi modifikasi cuaca melalui mekanisme resmi.

Kondisi setiap waduk tidak bisa digeneralisasi hanya berdasarkan status El Niño. Untuk menyebut sebuah waduk kritis atau aman, diperlukan data aktual dari operator bendungan maupun instansi terkait.

Dampak terhadap Pertanian dan Pangan

Sektor pertanian termasuk yang sensitif terhadap perubahan curah hujan.

Risikonya antara lain:

  • berkurangnya air irigasi;
  • perubahan jadwal tanam;
  • stres kekeringan pada tanaman;
  • meningkatnya kebutuhan air;
  • gangguan produksi pada lahan tadah hujan.

Namun, El Niño tidak otomatis menyebabkan gagal panen nasional.

Dampak terhadap produksi sangat bergantung pada jenis tanaman, lokasi, sistem irigasi, kalender tanam, cadangan air, serta hujan lokal.

Begitu pula dengan harga pangan. Pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi cuaca, tetapi juga stok, distribusi, permintaan, impor, dan kebijakan pemerintah.

El Niño dan Risiko Karhutla

Kondisi yang lebih kering membuat vegetasi dan bahan bakar di lahan lebih mudah terbakar. Karena itu, El Niño dapat meningkatkan peluang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Namun, keberadaan El Niño bukan berarti kebakaran terjadi secara otomatis. Api tetap membutuhkan sumber penyalaan, yang dalam banyak kasus berkaitan dengan aktivitas manusia.

Data 2026 menunjukkan peningkatan hotspot dan operasi penanganan kebakaran, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla Januari–Juli 2026 mencapai 202.010,96 hektare.

Hotspot juga tidak dapat disamakan begitu saja dengan luas lahan terbakar. Keduanya merupakan indikator yang berbeda.

Baca Juga:  BMKG: Prediksi Kapan Musim Kemarau 2026 Berakhir di Tiap Daerah

Periode Juli–September umumnya menjadi salah satu masa risiko karhutla yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Risiko dapat berkurang ketika hujan kembali meningkat di sejumlah wilayah.

Dampak terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan

Karhutla yang menghasilkan asap dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan memengaruhi kualitas udara.

Dampaknya sangat bergantung pada lokasi kebakaran serta arah dan kecepatan angin. Karena itu, kualitas udara buruk tidak otomatis terjadi di seluruh Indonesia hanya karena El Niño berlangsung.

Dari sisi kesehatan, kondisi panas dan kering dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stress. Asap kebakaran juga dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu sistem pernapasan.

Masyarakat di daerah terdampak sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dan arahan dari instansi kesehatan setempat.

El Niño dan Indian Ocean Dipole, Apa Bedanya?

El Niño dan Indian Ocean Dipole atau IOD merupakan dua fenomena iklim berbeda.

Aspek El Niño/ENSO IOD
Wilayah utama Pasifik tropis Samudra Hindia
Indikator Niño 3.4, ONI, SOI Dipole Mode Index
Dampak terhadap Indonesia Dapat menurunkan peluang hujan di sebagian wilayah IOD positif dapat mengurangi hujan di sebagian wilayah
Kondisi 2026 Sangat kuat menurut BMKG Mendekati kondisi positif pada Agustus

Keduanya dapat muncul bersamaan. Jika El Niño kuat bertepatan dengan IOD positif, sinyal kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia berpotensi menjadi lebih kuat.

Namun, hal tersebut tetap merupakan skenario iklim, bukan kepastian bahwa seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem.

Mengapa Saat El Niño Masih Bisa Hujan Lebat?

Jawabannya karena El Niño bekerja pada skala musiman, sedangkan hujan lebat bisa terbentuk dalam hitungan jam atau hari.

Fenomena seperti MJO, gelombang ekuatorial, konvergensi angin, kondisi laut lokal, dan topografi dapat memicu pertumbuhan awan hujan meski latar belakang iklim sedang kering.

Karena itu, jangan menggunakan satu kejadian hujan sebagai bukti bahwa El Niño sudah berakhir.

Perbandingan El Niño 2023–2024 dan 2026

El Niño 2023–2024 termasuk kategori kuat. Sementara itu, El Niño 2026 telah mencapai kategori sangat kuat berdasarkan indeks JJA BMKG.

Aspek El Niño 2023–2024 El Niño 2026
Perkembangan Menguat pada 2023 Menguat cepat pada pertengahan 2026
Intensitas ONI puncak sekitar +1,9 Indeks BMKG JJA 2,2
Kondisi Indonesia Risiko kemarau dan karhutla meningkat Kekeringan dan kemarau lebih kering terpantau
Perkiraan puncak Musim dingin 2023–2024 Diperkirakan akhir 2026

Pernyataan bahwa El Niño 2026 “lebih parah” daripada 2023 harus dilihat berdasarkan indikator, periode, dan wilayah yang dibandingkan. Intensitas Pasifik dan dampak terhadap Indonesia merupakan dua hal yang saling berkaitan tetapi tidak identik.

Apakah El Niño 2026 Bisa Memecahkan Rekor?

Peluang tersebut ada, tetapi belum bisa disebut sebagai fakta yang sudah terjadi.

NOAA memberikan peluang 69 persen bahwa periode OND 2026 dapat menjadi peristiwa historis berdasarkan kriteria RONI tiga bulanan tertentu.

WMO juga menyebut El Niño 2026 berpotensi sangat kuat dan memperkirakan puncaknya terjadi menjelang akhir 2026.

Karena kondisi masih berkembang, istilah “terkuat sepanjang sejarah” sebaiknya tidak digunakan sebagai fakta final sebelum puncak fenomena dan data lengkap tersedia.

Apakah El Niño Disebabkan Perubahan Iklim?

El Niño merupakan bagian dari variabilitas alami sistem iklim. Sementara itu, perubahan iklim akibat peningkatan gas rumah kaca merupakan tren pemanasan jangka panjang.

Keduanya bukan fenomena yang sama.

El Niño Perubahan iklim
Variabilitas alami Tren pemanasan jangka panjang
Berlangsung dalam skala bulan hingga sekitar tahunan Berlangsung dalam skala dekade dan lebih panjang
Berpusat pada Pasifik tropis Bersifat global
Memiliki fase El Niño, netral, dan La Niña Merupakan perubahan jangka panjang sistem iklim

El Niño dapat terjadi dalam kondisi iklim yang terus menghangat, tetapi tidak tepat menyatakan setiap kejadian El Niño semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim.

Apa yang Bisa Dilakukan Menghadapi El Niño 2026?

Untuk rumah tangga

Masyarakat dapat menghemat penggunaan air, menyiapkan sumber air cadangan jika diperlukan, dan menjaga penyimpanan air tetap higienis.

Informasi cuaca dan peringatan dini sebaiknya diperoleh dari sumber resmi seperti BMKG, bukan hanya dari unggahan media sosial yang belum terverifikasi.

Untuk petani

Petani perlu menyesuaikan kalender tanam dengan prakiraan musim dan kondisi ketersediaan air. Informasi dari BMKG serta penyuluh pertanian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum menentukan waktu tanam.

Untuk wilayah rawan karhutla

Jangan melakukan pembakaran lahan. Jika melihat asap atau api, segera laporkan kepada pihak berwenang.

Pada lahan gambut, area yang tampak sudah padam juga masih dapat menyimpan bara di bawah permukaan.

Untuk pemerintah daerah

Pemerintah daerah perlu memperkuat pengelolaan air, irigasi, waduk, kesiapsiagaan karhutla, serta koordinasi lintas sektor.

Informasi iklim juga dapat digunakan untuk membantu perencanaan pangan dan pengendalian risiko ekonomi daerah.

Cara Memantau Perkembangan El Niño

Masyarakat dapat memantau perkembangan fenomena ini melalui sumber resmi.

Untuk Indonesia, BMKG menyediakan informasi mengenai dinamika atmosfer, prediksi musim, peringatan dini kekeringan, serta layanan InfoBMKG.

Sementara untuk perkembangan global, informasi dapat diperoleh dari NOAA Climate Prediction Center, World Meteorological Organization (WMO), International Research Institute (IRI), dan Bureau of Meteorology Australia.

Data dalam artikel ini merujuk kondisi yang tersedia hingga 4 September 2026. Karena prakiraan iklim dapat berubah seiring masuknya data terbaru, pembaca sebaiknya memperhatikan tanggal pembaruan setiap informasi.

Kesimpulan

Jadi, apa itu El Niño? El Niño adalah fenomena laut-atmosfer di Pasifik tropis yang dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer dan meningkatkan peluang kondisi lebih kering di sebagian Indonesia.

Pada 2026, fenomena ini berkembang cukup kuat. BMKG mencatat indeks ENSO JJA sebesar 2,2 dan anomali suhu muka laut Niño 3.4 Agustus sebesar +2,83 derajat Celsius. Kondisi tersebut menempatkan El Niño 2026 dalam kategori sangat kuat menurut pemantauan BMKG.

Dampak yang paling perlu diperhatikan di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan, kekeringan, tekanan terhadap ketersediaan air, gangguan pertanian, serta meningkatnya risiko karhutla. Meski demikian, dampaknya tidak seragam dan hujan lokal tetap dapat terjadi.

Karena kondisi El Niño masih berkembang, informasi terbaru dari BMKG dan lembaga meteorologi resmi tetap menjadi rujukan utama. Yang terpenting bukan hanya mengetahui seberapa kuat El Niño, tetapi memahami bagaimana fenomena tersebut berinteraksi dengan musim, kondisi wilayah, dan kesiapan masyarakat.