Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dan dapat menular melalui udara ketika seseorang dengan TBC paru mengeluarkan droplet atau partikel yang mengandung bakteri saat batuk, bersin, berbicara, atau bernapas.

Cara mengatasi penyakit TBC tidak cukup hanya dengan mengurangi gejala. Jika TBC sudah terdiagnosis, pengobatan harus dilakukan menggunakan obat yang diresepkan tenaga kesehatan dan dijalani sesuai aturan sampai selesai. Pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko munculnya TBC yang kebal terhadap obat.

Karena gejalanya bisa berkembang perlahan dan pada awalnya tampak ringan, seseorang terkadang terlambat memeriksakan diri. Padahal, diagnosis dan pengobatan lebih awal penting untuk membantu mencegah penularan sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Apa Itu TBC dan Bagaimana Penularannya?

TBC terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi tubuh. Infeksi TBC tidak selalu langsung berkembang menjadi penyakit aktif. WHO menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala dan tidak menularkan bakteri, tetapi sebagian dapat berkembang menjadi TBC aktif.

TBC terutama menyerang paru-paru, tetapi bakteri tersebut juga dapat menyebabkan penyakit pada organ lain, seperti kelenjar getah bening, ginjal, tulang belakang, atau otak.

Baca Juga:  Cara Membuat SKCK Online di HP, Syarat, Biaya, dan Langkahnya

Penularan terutama terjadi melalui udara. Risiko dapat meningkat pada kontak erat dan berkepanjangan dengan orang yang memiliki TBC paru aktif, terutama jika belum mendapatkan pengobatan yang efektif.

Ciri-Ciri Penyakit TBC yang Perlu Diperhatikan

Gejala TBC dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Pada TBC paru, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Batuk Berkepanjangan

Batuk yang berlangsung lama merupakan salah satu gejala TBC paru. Batuk dapat disertai dahak dan pada sebagian kasus terdapat darah.

Batuk berkepanjangan tidak otomatis berarti seseorang terkena TBC karena banyak penyakit lain juga dapat menyebabkan batuk. Namun, jika keluhan menetap, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

2. Demam dan Keringat pada Malam Hari

TBC dapat menyebabkan demam yang berlangsung atau berulang serta keringat malam. Gejala ini dapat muncul perlahan sehingga terkadang dianggap sebagai keluhan biasa.

3. Berat Badan Menurun

Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, disertai berkurangnya nafsu makan, dapat menjadi salah satu tanda TBC.

4. Nyeri Dada dan Mudah Lelah

TBC paru dapat menyebabkan nyeri dada, lemah, atau mudah lelah. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami sesak napas.

WHO mencantumkan batuk berkepanjangan, nyeri dada, kelemahan atau kelelahan, penurunan berat badan, demam, dan keringat malam sebagai gejala umum TBC.

Cara Mengatasi Penyakit TBC yang Tepat

Pertanyaan mengenai cara mengatasi penyakit TBC perlu dijawab dengan hati-hati karena pengobatannya harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan.

1. Segera Melakukan Pemeriksaan

Jika mengalami gejala yang mengarah ke TBC, jangan menunggu kondisi semakin parah. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.

WHO merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat sebagai pemeriksaan awal bagi orang yang memiliki tanda dan gejala TBC. Pemeriksaan lain, seperti pemeriksaan dahak dan foto rontgen dada, dapat digunakan sesuai kondisi pasien.

Baca Juga:  Cara Daftar Barcode MyPertamina 2026: Syarat dan Link Resmi

2. Menjalani Pengobatan Sesuai Resep

TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. WHO menyebut TBC sensitif obat umumnya ditangani dengan kombinasi beberapa antibiotik, dengan regimen standar yang pada banyak kasus berlangsung sekitar enam bulan. Pada kondisi tertentu, tersedia regimen yang berbeda berdasarkan jenis TBC dan respons terhadap pengobatan.

Karena itu, pasien tidak dianjurkan memilih, mengganti, atau menghentikan obat TBC sendiri.

3. Jangan Menghentikan Obat Saat Gejala Membaik

Salah satu bagian penting dalam pengobatan TBC adalah kepatuhan. Kondisi tubuh yang mulai membaik bukan berarti bakteri sudah sepenuhnya hilang.

Pengobatan yang tidak diselesaikan sesuai petunjuk dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi dan resistensi obat. WHO juga menekankan pentingnya dukungan dan pemantauan tenaga kesehatan agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan.

4. Ikuti Pemantauan Tenaga Kesehatan

Selama menjalani pengobatan, pasien perlu mengikuti jadwal kontrol dan pemeriksaan yang diberikan dokter atau petugas kesehatan.

Pemantauan diperlukan untuk melihat perkembangan kondisi, memastikan pengobatan berjalan sesuai rencana, serta menangani kemungkinan efek samping atau masalah lain selama terapi.

5. Terapkan Etika Batuk dan Kurangi Risiko Penularan

Pada TBC paru yang menular, langkah pencegahan penularan sangat penting. Gunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan, tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, dan pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan penerapan etika batuk, termasuk menggunakan masker, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, membuang tisu pada tempatnya, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

6. Perhatikan Asupan Nutrisi dan Gaya Hidup

Pasien TBC perlu menjaga asupan makanan yang cukup dan seimbang untuk mendukung kondisi tubuh selama masa pengobatan.

Baca Juga:  Aturan Terbaru Saat Isi BBM: Wajib Tunjukkan STNK atau Tidak?

Berhenti merokok juga penting karena penggunaan tembakau merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya TBC menjadi penyakit. WHO memasukkan penggunaan tembakau, kekurangan gizi, diabetes, dan sistem kekebalan tubuh yang terganggu sebagai faktor yang berkaitan dengan risiko TBC.

Apakah TBC Bisa Sembuh?

Ya. TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan jika diagnosis dan pengobatannya dilakukan dengan tepat.

WHO menyebut sebagian besar penderita TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan yang sesuai. Namun, jenis obat dan lamanya terapi dapat berbeda, terutama pada TBC yang resistan terhadap obat. Karena itu, pasien perlu mengikuti rencana pengobatan yang diberikan tenaga kesehatan.

Kementerian Kesehatan melalui pendekatan TOSS TBC juga menekankan prinsip “Temukan dan Obati Sampai Sembuh”, yaitu menemukan kasus, memberikan pengobatan secara tepat dan cepat, serta memantau pengobatan sampai selesai.

Bagaimana Mencegah TBC?

Pencegahan TBC tidak hanya dilakukan oleh orang yang sedang sakit. Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC juga dapat membutuhkan pemeriksaan atau penanganan pencegahan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

WHO merekomendasikan pengobatan pencegahan TBC bagi kelompok tertentu yang berisiko tinggi, termasuk kontak serumah dengan pasien TBC dan orang yang hidup dengan HIV.

Vaksin BCG juga memiliki peran dalam melindungi bayi dan anak-anak dari bentuk TBC yang berat.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Jangan menunda pemeriksaan apabila mengalami batuk berkepanjangan, terutama jika disertai penurunan berat badan, demam, keringat malam, nyeri dada, lemas, atau darah pada dahak.

Pemeriksaan juga penting bagi orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC atau mempunyai faktor risiko tertentu. Diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala karena sejumlah penyakit lain dapat menimbulkan keluhan serupa.

Kesimpulan

Cara mengatasi penyakit TBC yang paling tepat adalah melakukan pemeriksaan sedini mungkin, mendapatkan diagnosis, menjalani obat sesuai resep, serta menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan di bawah pemantauan tenaga kesehatan. TBC bukan penyakit yang sebaiknya ditangani dengan obat sendiri atau dihentikan terapinya ketika gejala mulai membaik.

Selain pengobatan, pencegahan penularan melalui etika batuk, ventilasi yang baik, penggunaan masker sesuai anjuran, pemeriksaan kontak erat, dan vaksinasi BCG pada anak sesuai program kesehatan juga memiliki peran penting. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, pemeriksaan di fasilitas kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat daripada mencoba mendiagnosis diri sendiri.