Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 4 September 2026 mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan representasi kartografis yang lebih proporsional, terutama ketika perbandingan luas wilayah menjadi hal penting. Equal Earth disebut sebagai salah satu proyeksi yang relevan dalam konteks tersebut.

Keputusan ini kemudian memunculkan anggapan bahwa PBB telah mengganti peta dunia Mercator dengan Equal Earth. Padahal, maknanya tidak sesederhana itu. Resolusi tersebut tidak melarang Mercator, tidak menetapkan Equal Earth sebagai satu-satunya peta dunia, dan juga tidak mengubah batas negara.

Lantas, apa sebenarnya Equal Earth dan mengapa proyeksi ini kembali menjadi perhatian? Untuk memahaminya, perlu dilihat perbedaan tujuan masing-masing proyeksi serta alasan Afrika dan Greenland sering dijadikan contoh dalam pembahasan distorsi peta dunia.

Apa yang Diputuskan PBB soal Equal Earth?

Resolusi yang diadopsi Majelis Umum PBB mendorong negara anggota, organisasi internasional, lembaga pendidikan, media, dan platform teknologi untuk mempertimbangkan proyeksi equal-area ketika ukuran wilayah menjadi aspek penting.

Dokumen tersebut tercatat sebagai A/RES/80/307, sementara drafnya menggunakan nomor A/80/L.104. Pemungutan suara berlangsung pada 4 September 2026 dalam sidang ke-80 Majelis Umum PBB.

Inisiatif tersebut dibawa Togo atas nama Kelompok Afrika dengan dukungan Uni Afrika. Dalam pemungutan suara, 164 negara mendukung, satu negara menolak, enam abstain, sementara 22 negara tidak memberikan suara. Amerika Serikat tercatat sebagai satu-satunya negara yang menolak.

Namun, penting memahami sifat resolusi ini. Resolusi Majelis Umum PBB bersifat politis dan tidak mempunyai kekuatan mengikat seperti perjanjian internasional.

Apakah PBB Mengganti Mercator?

Tidak.

Resolusi tersebut tidak menetapkan bahwa seluruh peta dunia harus menggunakan Equal Earth. Bahasa yang digunakan lebih berupa dorongan agar proyeksi equal-area dipertimbangkan dalam penggunaan tertentu, terutama ketika masyarakat perlu memahami perbandingan luas wilayah.

Artinya, Mercator masih dapat digunakan untuk kebutuhan yang memang sesuai dengan karakteristiknya, termasuk konteks navigasi tertentu.

Hal ini juga berbeda dari standar kartografi internal Sekretariat PBB. Tidak ada penetapan bahwa seluruh peta yang digunakan Sekretariat PBB harus segera beralih ke Equal Earth.

Apa Itu Equal Earth?

Equal Earth merupakan proyeksi peta dunia equal-area pseudosilindris yang diperkenalkan pada 2018. Fokus utamanya adalah mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih proporsional ketika permukaan Bumi ditampilkan pada bidang datar.

Istilah equal-area berarti wilayah yang mempunyai luas tertentu di permukaan Bumi tetap memiliki proporsi luas yang sesuai pada peta. Ini bukan berarti bentuk negara menjadi sempurna atau seluruh jarak dan arah otomatis akurat.

Baca Juga:  Link DANA Kaget Terbaru 15 Oktober 2026, Bisa Dapat Saldo Gratis Rp350.000

Equal Earth dirancang agar benua tetap relatif mudah dikenali secara visual. Penampilannya memiliki kemiripan dengan proyeksi Robinson, tetapi berbeda secara matematis karena Equal Earth mempertahankan luas relatif wilayah.

Siapa yang Mengembangkan Equal Earth?

Proyeksi Equal Earth dikembangkan oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny. Paper mengenai proyeksi tersebut diterbitkan pada 7 Agustus 2018 dalam International Journal of Geographical Information Science.

Equal Earth kemudian menjadi salah satu alternatif proyeksi equal-area yang secara visual dianggap lebih familiar dibandingkan Gall-Peters.

Mengapa Peta Dunia Bisa Terlihat Berbeda?

Alasannya sederhana: Bumi hampir berbentuk bola, sedangkan peta dunia biasanya dibuat pada permukaan datar.

Ketika permukaan tiga dimensi dipindahkan ke bidang dua dimensi, distorsi tidak dapat dihindari. Analogi sederhananya seperti kulit jeruk yang dipaksa dibentangkan di atas meja. Sebagian permukaan harus diregangkan, dipampatkan, atau diubah bentuknya.

Karena itu, setiap proyeksi memilih sifat tertentu untuk dipertahankan.

Beberapa di antaranya adalah:

  • luas wilayah;
  • bentuk atau sudut lokal;
  • arah;
  • jarak; atau
  • kombinasi beberapa karakteristik tersebut.

Tidak ada peta dunia datar yang dapat mempertahankan luas, bentuk, arah, dan jarak secara sempurna sekaligus.

Apa Itu Peta Mercator?

Proyeksi Mercator diperkenalkan Gerardus Mercator pada 1569. Sejak awal, proyeksi ini sangat berkaitan dengan kebutuhan navigasi karena memiliki karakteristik yang membantu pelaut mempertahankan arah tertentu.

Mercator merupakan proyeksi conformal. Artinya, sudut lokal dipertahankan sehingga bentuk wilayah dalam skala lokal relatif terjaga.

Karakteristik lain yang penting adalah rhumb line atau loxodrome. Dalam konteks navigasi, garis dengan arah kompas konstan dapat digambarkan sebagai garis lurus pada peta Mercator.

Masalah muncul ketika karakteristik tersebut digunakan untuk membandingkan luas wilayah dunia.

Mengapa Wilayah Utara Terlihat Lebih Besar?

Distorsi skala pada Mercator meningkat seiring bertambahnya lintang.

Wilayah yang semakin dekat dengan kutub mengalami pembesaran visual yang semakin besar. Karena itu, Greenland, Kanada, Rusia, dan kawasan Skandinavia dapat terlihat jauh lebih besar dibandingkan proporsi luas sebenarnya.

Sebaliknya, wilayah di sekitar ekuator tidak mengalami pembesaran dengan tingkat yang sama. Afrika menjadi salah satu contoh yang paling sering digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut.

Afrika dan Greenland: Contoh Paling Mudah

Pada sejumlah peta dunia berbasis Mercator, Greenland terlihat seolah-olah mendekati ukuran Afrika.

Padahal, perbandingan luas sebenarnya sangat berbeda.

  • Afrika: sekitar 30,3 juta km²
  • Greenland: sekitar 2,17 juta km²

Dengan demikian, luas Afrika kira-kira 14 kali Greenland.

Equal Earth mempertahankan proporsi area sehingga perbedaan tersebut lebih mudah terlihat secara visual.

Namun, angka luas wilayah sebaiknya tetap berasal dari data geografi atau pengukuran geodetik, bukan sekadar mengukur gambar pada peta.

Apakah Mercator Berarti Peta yang Salah?

Tidak.

Mercator bukan peta yang salah secara matematis. Proyeksi ini memang dibuat untuk tujuan tertentu dan mempunyai keunggulan yang sangat berguna dalam navigasi.

Persoalannya adalah penggunaan.

Jika tujuan sebuah peta adalah membantu navigasi, karakteristik Mercator dapat menjadi keuntungan. Tetapi jika tujuannya membandingkan ukuran benua, distorsi luas pada Mercator dapat menghasilkan kesan yang keliru.

Jadi, pertanyaannya bukan sekadar “mana yang benar?”, melainkan peta tersebut digunakan untuk apa?

Baca Juga:  Bantuan Penyelesaian Studi S2-S3 Kemenag-LPDP 2026: Syarat dan Cara Daftar

Equal Earth vs Mercator

Aspek Equal Earth Mercator
Diperkenalkan 2018 1569
Jenis proyeksi Equal-area pseudosilindris Conformal silindris
Mempertahankan luas Ya Tidak
Mempertahankan sudut lokal Tidak Ya
Navigasi Bukan pilihan utama Sangat relevan
Perbandingan luas benua Cocok Kurang cocok
Distorsi lintang tinggi Tetap ada, tetapi area terjaga Area membesar tajam
Kegunaan peta tematik Baik Terbatas jika fokusnya luas

Perbedaan utama keduanya terletak pada prioritas. Equal Earth memprioritaskan luas, sedangkan Mercator mempertahankan karakteristik sudut yang berguna untuk navigasi.

Apa Kelebihan Equal Earth?

Ada beberapa alasan Equal Earth menarik untuk digunakan pada peta dunia tematik dan pendidikan.

Pertama, luas relatif wilayah dipertahankan. Ini membuat perbandingan ukuran antarwilayah lebih masuk akal.

Kedua, bentuk benua masih relatif familiar. Equal Earth tidak menghasilkan tampilan benua yang terlalu memanjang seperti yang sering terlihat pada Gall-Peters.

Ketiga, proyeksi ini cocok untuk peta statistik atau tematik yang menampilkan data berdasarkan luas wilayah.

Tetapi Equal Earth bukan berarti peta yang bebas distorsi.

Apa Kekurangan Equal Earth?

Equal Earth mempertahankan luas, tetapi mengorbankan beberapa karakteristik lainnya.

Bentuk wilayah tetap mengalami distorsi. Sudut tidak dipertahankan seperti pada proyeksi conformal. Jarak dan arah juga tidak selalu akurat.

Karena itu, Equal Earth tidak dapat dianggap sebagai pengganti universal untuk seluruh kebutuhan pemetaan.

Prinsipnya sederhana: equal-area berarti luas dipertahankan, bukan semua aspek geografis dibuat sempurna.

Mengapa Afrika Menjadi Pusat Perdebatan?

Afrika merupakan daratan yang sangat luas dan sebagian besar wilayahnya berada di sekitar kawasan tropis serta subtropis.

Pada peta Mercator, posisi lintang tersebut membuat Afrika mengalami pembesaran yang lebih kecil dibandingkan wilayah yang jauh lebih dekat dengan kutub. Akibatnya, dalam tampilan dunia tertentu, Afrika dapat terlihat lebih kecil daripada proporsi luas sebenarnya.

Inisiatif Correct the Map kemudian mengangkat persoalan ini bukan hanya sebagai persoalan teknis kartografi, tetapi juga sebagai isu literasi geografis dan representasi.

Meski begitu, penting membedakan fakta matematis dengan interpretasi sosial. Distorsi pada Mercator berasal dari karakteristik matematis proyeksinya. Dampak sosial dan pendidikan dari penggunaan peta tersebut merupakan persoalan yang berbeda.

Apakah Mercator Sengaja Mengecilkan Afrika?

Tidak ada bukti sejarah primer dalam materi sumber yang menunjukkan bahwa Gerardus Mercator merancang proyeksinya pada 1569 secara khusus untuk mengecilkan Afrika.

Tujuan utama Mercator berkaitan dengan navigasi. Pembesaran wilayah lintang tinggi merupakan konsekuensi matematis dari karakter conformal tersebut.

Kritik terhadap dampak penggunaan Mercator selama berabad-abad tidak sama dengan klaim bahwa rumus Mercator sengaja dibuat untuk mengecilkan Afrika.

Mengapa Google Maps Masih Menggunakan Web Mercator?

Pertanyaan ini sering muncul setelah pembahasan mengenai distorsi Mercator.

Layanan peta digital menggunakan Web Mercator, yang juga dikenal sebagai EPSG:3857, karena proyeksi tersebut cocok untuk sistem ubin peta, zoom bertingkat, dan layanan peta interaktif.

Web Mercator bukan dirancang sebagai peta dinding untuk membandingkan luas Afrika dengan Greenland. Kebutuhan utamanya berbeda.

Pada tampilan tertentu, layanan peta digital juga dapat menggunakan globe tiga dimensi ketika pengguna memperkecil tampilan dunia. Dengan globe, distorsi visual akibat bidang datar dapat dikurangi secara signifikan.

Karena itu, penggunaan Web Mercator tidak otomatis berarti layanan tersebut menganggap luas semua wilayah terlihat benar pada peta datar.

Baca Juga:  Cara Bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Online Lewat HP 2026

Apakah Sekolah Harus Mengganti Peta Dunia?

Tidak secara otomatis.

Resolusi PBB mendorong penggunaan representasi yang lebih sesuai ketika perbandingan luas menjadi penting, tetapi tidak menetapkan kewajiban universal bagi seluruh sekolah untuk mengganti atlas atau peta dinding.

Kebijakan pendidikan tetap bergantung pada masing-masing negara.

Dalam materi sumber disebutkan bahwa Togo merencanakan penggunaan Equal Earth di sekolah pada akhir 2026, sementara Uni Afrika mendorong anggotanya meninjau kurikulum.

Apakah Indonesia Akan Menggunakan Equal Earth?

Belum ada pengumuman resmi pemerintah Indonesia, Badan Informasi Geospasial, atau kementerian pendidikan dalam materi sumber yang menyatakan bahwa Equal Earth wajib digunakan pada atlas nasional atau buku sekolah.

Karena itu, resolusi PBB tidak bisa langsung diartikan sebagai perintah bahwa seluruh peta pendidikan di Indonesia harus segera berubah.

Indonesia sendiri berada di sekitar kawasan ekuator. Pergantian proyeksi dapat mengubah tampilan visual suatu wilayah pada peta, tetapi tidak mengubah luas resmi atau status wilayah Indonesia.

Apakah Batas Negara Akan Berubah?

Tidak.

Pergantian proyeksi peta tidak mengubah koordinat geografis, luas nyata, batas administratif, maupun status hukum suatu wilayah.

Proyeksi hanyalah metode untuk merepresentasikan permukaan Bumi pada bidang tertentu. Karena itu, perubahan dari Mercator ke Equal Earth tidak berarti batas negara ikut berubah.

Hal yang sama berlaku untuk wilayah yang mempunyai persoalan perbatasan atau sengketa. Persoalan tersebut ditentukan melalui hukum, diplomasi, dan kesepakatan terkait, bukan oleh rumus proyeksi peta.

Mana yang Lebih Akurat, Equal Earth atau Mercator?

Jawabannya tergantung kebutuhan.

Jika ingin membandingkan luas wilayah, Equal Earth lebih sesuai karena mempertahankan proporsi area.

Jika membutuhkan sudut lokal dan karakteristik tertentu untuk navigasi, Mercator memiliki keunggulan.

Untuk memahami bentuk Bumi secara keseluruhan, globe tetap menjadi representasi yang lebih intuitif dibandingkan peta dunia datar.

Dengan kata lain, tidak ada satu proyeksi yang menjadi pemenang mutlak. Akurasi selalu berkaitan dengan sifat geografis apa yang ingin dipertahankan.

Proyeksi Peta yang Cocok untuk Berbagai Kebutuhan

Kebutuhan Proyeksi yang sesuai Alasan
Membandingkan luas negara Equal-area Proporsi area terjaga
Peta statistik dunia Equal-area Luas lebih konsisten
Pendidikan ukuran benua Equal-area Mengurangi kesan distorsi luas
Navigasi Mercator atau sistem khusus Sudut dan arah tertentu berguna
Peta web interaktif Web Mercator atau globe 3D Mendukung ubin dan zoom
Peta regional UTM/proyeksi lokal Distorsi dapat ditekan
Atlas dunia Robinson, Winkel Tripel, atau equal-area Bergantung tujuan atlas

Pemilihan proyeksi seharusnya selalu mengikuti fungsi peta. Peta navigasi, peta statistik, atlas sekolah, dan peta web tidak harus menggunakan proyeksi yang sama.

Apa yang Berpotensi Berubah Setelah Resolusi PBB?

Resolusi tersebut dapat mendorong perubahan dalam cara peta dunia digunakan, khususnya untuk pendidikan, visualisasi data, dan materi yang membutuhkan perbandingan luas.

Namun, beberapa hal tidak berubah hanya karena resolusi tersebut.

Luas nyata negara tetap sama. Koordinat geografis tidak berubah. Batas negara juga tidak otomatis berubah. Mercator tetap mempunyai fungsi dalam navigasi, sedangkan penggunaan atlas dan peta sekolah bergantung pada kebijakan masing-masing negara.

Dengan demikian, dampak terbesar yang mungkin muncul bukanlah perubahan geografis di dunia nyata, melainkan perubahan cara dunia direpresentasikan di atas peta.

Kesimpulan

Resolusi PBB pada September 2026 mendorong penggunaan proyeksi yang dapat menampilkan luas wilayah secara lebih proporsional, dengan Equal Earth menjadi salah satu opsi yang relevan. Keputusan tersebut bukan larangan terhadap Mercator dan bukan pula penetapan Equal Earth sebagai satu-satunya peta resmi dunia.

Equal Earth memiliki keunggulan ketika peta digunakan untuk membandingkan luas benua atau negara. Sementara itu, Mercator tetap berguna untuk kebutuhan yang mengutamakan sudut lokal dan navigasi.

Jadi, perdebatan Equal Earth vs Mercator sebenarnya bukan soal memilih peta yang “benar” dan “salah”. Keduanya dibuat untuk tujuan berbeda. Yang paling penting adalah memahami jenis proyeksi yang digunakan dan tidak mengambil kesimpulan tentang ukuran wilayah hanya dari tampilan sebuah peta datar.