Data breach menjadi salah satu istilah yang semakin sering muncul ketika membahas keamanan digital. Mulai dari akun pribadi, layanan perbankan, perusahaan teknologi, hingga lembaga pemerintah, semuanya memiliki risiko mengalami insiden yang membuat data jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.

Secara sederhana, data breach dapat dipahami sebagai kejadian ketika data yang seharusnya terlindungi diakses, diperoleh, diungkapkan, atau digunakan tanpa izin. Informasi yang terdampak pun tidak selalu sama. Bisa berupa alamat email dan nomor telepon, tetapi dalam kasus tertentu dapat mencakup password, data keuangan, NIK, informasi kesehatan, bahkan data biometrik.

Karena itu, mengenal data breach bukan sekadar memahami istilah keamanan siber. Pengetahuan ini penting agar pengguna dapat membedakan antara kebocoran data, serangan siber, phishing, ransomware, maupun sekadar klaim kebocoran yang beredar di media sosial.

Table of Contents

Apa Itu Data Breach?

Data breach adalah insiden keamanan yang menyebabkan pihak yang tidak memiliki otorisasi mendapatkan akses terhadap data pribadi maupun informasi rahasia perusahaan.

Data breach tidak selalu berarti seseorang berhasil “meretas” sebuah sistem. Kebocoran juga dapat terjadi akibat kesalahan manusia, konfigurasi sistem yang keliru, perangkat yang hilang, dokumen yang salah kirim, atau akses internal yang terlalu luas.

Dalam konteks perlindungan data, definisinya bahkan dapat mencakup kehilangan, perubahan, penghancuran, pengungkapan, maupun akses terhadap data pribadi secara tidak sah, baik karena kesengajaan maupun kecelakaan.

Pengertian Data Breach dalam Bahasa Sederhana

Bayangkan sebuah lemari arsip yang hanya boleh dibuka oleh orang tertentu. Jika seseorang yang tidak memiliki izin berhasil membuka lemari tersebut, membaca dokumen di dalamnya, atau membuat salinannya, situasi tersebut dapat dianalogikan sebagai data breach.

Jadi, inti masalahnya bukan hanya apakah terjadi aksi peretasan. Hal yang paling penting adalah adanya data yang dapat diakses atau diperoleh oleh pihak yang tidak berhak.

Data Breach dan Data Leak, Apa Bedanya?

Istilah data breach dan data leak sering digunakan secara bergantian. Padahal, dalam praktik keamanan siber, keduanya dapat menggambarkan kondisi yang berbeda.

Data breach biasanya merujuk pada akses tidak sah terhadap data yang berkaitan dengan sebuah insiden keamanan. Serangan siber dapat menjadi salah satu pemicunya.

Sementara itu, data leak lebih sering digunakan untuk menggambarkan data sensitif yang terbuka atau tersebar tanpa sengaja. Contohnya adalah penyimpanan cloud yang salah konfigurasi sehingga dapat diakses publik.

Meski demikian, perbedaannya tidak selalu mutlak. Sebuah data leak dapat berkembang menjadi data breach ketika informasi yang terbuka kemudian diakses atau dimanfaatkan pihak yang tidak berwenang.

Data Breach Berbeda dengan Hacking

Hacking atau cyberattack merupakan metode atau tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan akses atau mengganggu sebuah sistem. Data breach merupakan salah satu kemungkinan akibat dari insiden tersebut.

Artinya, serangan siber belum tentu berujung pada pencurian data. Sebaliknya, data breach juga dapat terjadi tanpa adanya serangan aktif.

Beberapa penyebab non-serangan yang dapat memicu kebocoran antara lain:

  • Penyimpanan cloud terbuka untuk publik.
  • Database tidak memiliki autentikasi yang memadai.
  • Laptop atau media penyimpanan hilang tanpa enkripsi.
  • Dokumen pribadi dikirim kepada penerima yang salah.
  • Hak akses pegawai terlalu luas.
  • Data diunggah ke lokasi publik tanpa sengaja.

Apa Bedanya Data Breach dan Ransomware?

Ransomware merupakan jenis malware yang dapat mengenkripsi sistem atau file korban dan meminta pembayaran sebagai syarat pemulihan.

Dalam sejumlah operasi modern, pelaku ransomware juga mencuri data sebelum mengenkripsi sistem. Data tersebut kemudian digunakan sebagai alat tekanan dengan ancaman akan dipublikasikan.

Baca Juga:  Fitur Contactless BCA Bisa Dimatikan, Begini Cara Mengaturnya di HP

Pola ini sering disebut sebagai pemerasan ganda.

Namun, ransomware dan data breach tetap merupakan dua hal berbeda. Tidak semua serangan ransomware terbukti melibatkan pencurian data, sementara banyak data breach sama sekali tidak berkaitan dengan ransomware.

Apakah Phishing Termasuk Data Breach?

Phishing merupakan teknik yang digunakan untuk menipu korban agar menyerahkan informasi seperti username, password, kode verifikasi, atau memberikan akses tertentu.

Dalam sebuah insiden, phishing sering menjadi pintu masuk menuju data breach, bukan data breach itu sendiri.

Sebagai contoh, seseorang mungkin menerima email palsu yang menyerupai layanan resmi. Setelah korban memasukkan password pada halaman tersebut, kredensialnya dapat digunakan pelaku untuk masuk ke sistem lain dan mengakses data.

Namun, menerima email phishing saja belum berarti seseorang telah mengalami data breach.

Jenis Data yang Bisa Bocor

Data yang terekspos dalam sebuah insiden sangat bergantung pada sistem dan akses yang berhasil diperoleh pelaku.

Beberapa jenis informasi yang berpotensi terdampak meliputi:

Data Identitas

Data ini dapat berupa nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, dan alamat email.

Data Kredensial

Contohnya username, password, informasi pemulihan akun, serta session token.

Session token perlu diperhatikan karena token yang masih aktif dapat digunakan untuk mempertahankan akses tanpa harus memasukkan password kembali.

Data Keuangan

Informasi pembayaran, nomor rekening, dan riwayat transaksi dapat menjadi target. Namun, kebocoran data tidak otomatis berarti seluruh informasi kartu pembayaran ikut terekspos.

Data Kependudukan

NIK dan nomor dokumen kependudukan termasuk informasi yang sensitif karena dapat berkaitan dengan identitas seseorang.

Data Kesehatan

Data diagnosis, riwayat perawatan, hasil pemeriksaan, hingga informasi medis lainnya dapat memiliki konsekuensi serius jika tersebar.

Data Biometrik

Sidik jari, pemindaian wajah, dan template biometrik memiliki karakteristik khusus. Berbeda dengan password, informasi biometrik tidak dapat begitu saja diganti ketika sudah tersebar.

Data Perusahaan

Kebocoran juga dapat mencakup dokumen internal, source code, kontrak, arsip email, API key, serta kredensial sistem.

Bagaimana Data Breach Bisa Terjadi?

Dalam skenario serangan, proses data breach dapat berlangsung melalui beberapa tahapan.

Pelaku terlebih dahulu menemukan titik masuk, misalnya sistem yang belum diperbarui atau kredensial yang sudah bocor. Setelah memperoleh akses awal, pelaku dapat mencari akses yang lebih tinggi, menemukan data yang bernilai, lalu menyalinnya keluar dari sistem.

Data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, termasuk penipuan, pemerasan, atau diperjualbelikan.

Namun, tidak semua insiden mengikuti pola tersebut. Kebocoran juga dapat terjadi akibat kesalahan konfigurasi, human error, perangkat yang hilang, maupun akses internal yang tidak semestinya.

Penyebab Data Breach yang Paling Umum

Ada sejumlah faktor yang berulang kali ditemukan dalam berbagai insiden kebocoran data.

Kerentanan Software yang Belum Ditambal

Sistem yang menggunakan perangkat lunak dengan kerentanan keamanan dapat menjadi target serangan. Karena itu, pembaruan sistem bukan sekadar menambahkan fitur baru, tetapi juga memperbaiki celah yang diketahui.

Password dan Kredensial Dicuri

Kredensial yang dicuri dapat memberikan akses langsung ke akun tertentu. Risikonya semakin besar jika satu password digunakan untuk banyak layanan.

Phishing dan Social Engineering

Pelaku memanfaatkan rasa percaya, tekanan waktu, atau identitas palsu untuk membuat korban melakukan tindakan tertentu.

Infostealer

Infostealer merupakan malware yang dirancang untuk mencuri informasi dari perangkat, termasuk password tersimpan, cookie browser, session token, maupun data tertentu dari aplikasi.

Password Digunakan Berulang

Satu password yang digunakan di banyak akun dapat menimbulkan efek domino.

Jika password tersebut bocor pada layanan pertama, pelaku dapat mencoba kombinasi email dan password yang sama pada layanan lain. Teknik otomatis seperti ini dikenal sebagai credential stuffing.

Salah Konfigurasi Cloud

Penyimpanan cloud, database, atau sistem berbagi file yang memiliki izin terlalu terbuka dapat menyebabkan data dapat diakses pihak yang seharusnya tidak memiliki akses.

Human Error

Kesalahan manusia dapat berupa salah mengirim dokumen, salah mengatur izin berbagi, atau mengunggah data ke lokasi yang tidak seharusnya.

Pihak Ketiga dan Supply Chain

Perusahaan juga dapat terdampak melalui vendor, aplikasi pihak ketiga, integrasi SaaS, maupun layanan yang digunakan dalam operasionalnya.

Artinya, keamanan sebuah organisasi tidak hanya bergantung pada sistem internal. Hubungan dengan pihak ketiga juga perlu diperhatikan.

Contoh Data Breach di Indonesia

Tidak semua klaim kebocoran data yang beredar di internet telah dikonfirmasi. Karena itu, status sebuah insiden perlu dibedakan antara terkonfirmasi, sedang diselidiki, diduga, dan sekadar diklaim.

Salah satu insiden yang terkonfirmasi adalah serangan terhadap PDNS 2 pada 2024. Insiden tersebut berkaitan dengan ransomware dan berdampak pada ratusan instansi pemerintah.

Sementara itu, kasus dugaan kebocoran data BPJS Kesehatan pada 2021 pernah menjadi perhatian publik. Angka ratusan juta data yang beredar berasal dari klaim pihak yang menjual data dan bukan merupakan angka yang dikonfirmasi secara resmi.

Hal serupa berlaku pada berbagai klaim kebocoran data pendidikan maupun kependudukan. Informasi yang beredar di forum atau media sosial tidak otomatis menjadi bukti bahwa sebuah sistem telah berhasil ditembus.

Baca Juga:  Cara Menonaktifkan Langganan Fitur AI Pada Strava, Tombol Opt-Out Sudah Hilang

Mengapa Klaim Data di Dark Web Perlu Diverifikasi?

Kemunculan data di forum kriminal, kanal Telegram, atau marketplace gelap belum otomatis membuktikan bahwa data tersebut merupakan hasil pembobolan terbaru.

Data yang ditawarkan bisa saja berupa:

  • Data lama yang dikemas kembali.
  • Duplikasi kebocoran sebelumnya.
  • Gabungan dari beberapa dataset.
  • Informasi yang sebenarnya sudah tersedia secara publik.
  • Hasil scraping.
  • Data palsu untuk menipu pihak lain.
  • Data yang memang baru dicuri.

Karena itu, klaim kebocoran sebaiknya diberi status sesuai bukti yang tersedia.

Pemberitaan yang akurat perlu membedakan antara “diklaim”, “terindikasi”, “sedang diselidiki”, dan “terkonfirmasi”.

Apa Bahaya Data Breach bagi Pengguna?

Dampak kebocoran data tidak selalu sama. Semuanya bergantung pada jenis informasi yang terekspos dan bagaimana data tersebut dapat dimanfaatkan.

Beberapa risiko yang mungkin muncul adalah:

Pengambilalihan Akun

Jika password atau session token terekspos, pelaku dapat mencoba mengambil alih akun.

Credential Stuffing

Email dan password hasil kebocoran dapat dicoba secara otomatis pada berbagai layanan lain.

Phishing yang Lebih Meyakinkan

Pelaku dapat menggunakan data korban untuk membuat pesan penipuan yang terlihat lebih personal.

Penyalahgunaan Identitas

Informasi seperti nama, tanggal lahir, dan NIK dapat dimanfaatkan untuk berbagai bentuk penyalahgunaan identitas.

Penipuan Finansial

Data yang bocor dapat menjadi bagian dari rangkaian penipuan. Namun, alamat email yang bocor tidak otomatis membuat rekening seseorang dapat dibobol.

Sering kali pelaku masih membutuhkan informasi tambahan atau tindakan korban, misalnya menyerahkan OTP.

SIM Swapping

Nomor telepon yang terekspos dapat dimanfaatkan dalam upaya mengambil alih nomor korban melalui proses penggantian SIM secara tidak sah.

Bagaimana Mengetahui Data Pribadi Mungkin Bocor?

Ada beberapa tanda yang patut diperhatikan, misalnya:

  • Mendapatkan pemberitahuan resmi dari perusahaan.
  • Muncul peringatan login dari perangkat asing.
  • Password berubah tanpa dilakukan sendiri.
  • Akun tiba-tiba logout dari sejumlah perangkat.
  • Menerima email reset password yang tidak pernah diminta.
  • Mendapat pesan phishing yang jauh lebih personal.
  • Menemukan transaksi yang tidak dikenal.

Namun, satu tanda saja tidak dapat dijadikan bukti pasti bahwa telah terjadi data breach.

Cara Mengecek Apakah Email Pernah Terlibat Data Breach

Layanan seperti Have I Been Pwned dapat digunakan untuk melihat apakah alamat email pernah muncul dalam dataset kebocoran yang diketahui layanan tersebut.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika menggunakan layanan pemeriksa kebocoran:

  1. Pastikan menggunakan layanan yang memiliki reputasi baik.
  2. Periksa alamat situs sebelum memasukkan informasi.
  3. Jangan pernah memasukkan password ke situs pemeriksa kebocoran.
  4. Jangan mengunggah foto KTP ke situs yang tidak dikenal.
  5. Jangan membayar pihak yang menjanjikan dapat menghapus data dari dark web.

Jika sebuah email dinyatakan pernah muncul dalam dataset, hal itu tidak otomatis berarti akun saat ini telah diambil alih.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Data Bocor?

Jika terdapat indikasi bahwa akun atau data pribadi terdampak, langkah pertama adalah memastikan informasi tersebut benar.

Cari pemberitahuan dari perusahaan atau organisasi melalui kanal resminya. Setelah itu, lakukan langkah berikut:

  1. Ganti password akun terdampak.
  2. Gunakan password baru yang unik.
  3. Ganti password akun lain jika menggunakan password yang sama.
  4. Aktifkan MFA.
  5. Keluarkan semua sesi aktif.
  6. Periksa email pemulihan dan nomor telepon.
  7. Tinjau aktivitas login.
  8. Waspadai phishing setelah insiden.
  9. Pantau transaksi keuangan jika relevan.
  10. Hubungi penyedia layanan melalui kanal resmi.
  11. Perbarui perangkat jika insiden berkaitan dengan malware.
  12. Simpan bukti berupa email atau tangkapan layar jika terjadi penyalahgunaan.

Mengganti password saja belum tentu cukup. Jika session token ikut dicuri, sesi aktif juga perlu dihentikan.

Password Seperti Apa yang Lebih Aman?

Prinsip utama dalam membuat password adalah menggunakan kombinasi yang panjang dan berbeda untuk setiap akun.

Menggunakan password yang sama di banyak layanan dapat memperbesar dampak ketika salah satu layanan mengalami kebocoran.

Password manager dapat membantu karena pengguna tidak perlu mengingat seluruh password secara manual. Aplikasi tersebut dapat membuat dan menyimpan password unik untuk setiap akun.

Yang juga penting adalah tidak menggunakan informasi pribadi seperti nama, tanggal lahir, atau nomor telepon sebagai dasar password.

Mengapa MFA Penting?

Multi-factor authentication atau MFA memberikan lapisan verifikasi tambahan selain password.

Metode MFA memiliki tingkat ketahanan yang berbeda. SMS OTP, misalnya, masih memiliki risiko tertentu seperti SIM swap. Aplikasi authenticator memberikan perlindungan tambahan, sedangkan security key dan passkey menggunakan mekanisme kriptografi yang dirancang untuk memberikan ketahanan lebih baik terhadap phishing.

Jika layanan menyediakan metode autentikasi yang lebih tahan phishing, pengguna dapat mempertimbangkannya sebagai pilihan utama.

Apa Itu Passkey?

Passkey adalah kredensial berbasis kriptografi yang dirancang untuk menggantikan password.

Dalam mekanisme ini, perangkat menyimpan kunci privat, sedangkan layanan menyimpan kunci publik. Saat autentikasi dilakukan, perangkat membuktikan kepemilikan kunci tanpa mengirimkan password kepada situs.

Baca Juga:  Apa Itu Internet dan Ethernet? Kenali Pengertian dan Perbedaannya

Salah satu keunggulan penting passkey adalah perlindungan terhadap phishing karena kredensialnya terikat dengan domain layanan yang sah.

Mengapa Data Breach Sering Diikuti Phishing?

Setelah terjadi kebocoran, informasi korban dapat digunakan untuk membuat pesan penipuan yang lebih meyakinkan.

Jika pelaku mengetahui nama, email, nomor telepon, dan layanan yang digunakan korban, pesan palsu dapat dibuat seolah-olah berasal dari perusahaan resmi.

Karena itu, jangan langsung mengklik tautan yang meminta tindakan mendesak.

Lebih aman membuka aplikasi atau situs secara manual, memeriksa domain dengan teliti, serta tidak pernah memberikan OTP atau recovery code kepada siapa pun.

Apa yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Data Breach?

Beberapa tindakan justru dapat memperbesar risiko.

Hindari menggunakan kembali password lama, memberikan OTP kepada orang lain, memasukkan password ke situs pengecekan yang tidak dikenal, atau membayar pihak yang menjanjikan dapat menghapus seluruh data dari dark web.

Jangan pula langsung menghapus semua akun karena panik sebelum mengetahui jenis data apa yang sebenarnya terdampak.

Cara Mencegah Data Breach dari Sisi Pengguna

Pengguna dapat mengurangi risiko dengan menerapkan sejumlah kebiasaan keamanan dasar:

  • Gunakan password unik untuk setiap akun.
  • Gunakan password manager.
  • Aktifkan MFA.
  • Gunakan passkey jika tersedia.
  • Rutin memperbarui sistem operasi.
  • Perbarui aplikasi dan browser.
  • Waspadai phishing.
  • Batasi informasi pribadi di media sosial.
  • Tinjau izin aplikasi pihak ketiga.
  • Hindari software bajakan.
  • Jangan pernah membagikan OTP.
  • Amankan email utama.
  • Gunakan kunci layar perangkat.
  • Aktifkan enkripsi penyimpanan.
  • Cadangkan data penting.
  • Keluar dari perangkat lama.
  • Tutup akun yang sudah tidak digunakan.

Tidak ada metode yang mampu membuat perangkat atau akun sepenuhnya bebas risiko. Namun, kombinasi beberapa lapisan perlindungan dapat mengurangi peluang dan dampak serangan.

Cara Perusahaan Mencegah Data Breach

Bagi perusahaan, perlindungan data membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Organisasi perlu mengetahui aset dan data yang dimiliki, mengklasifikasikan data berdasarkan tingkat sensitivitas, serta menerapkan prinsip least privilege.

Sistem kritis juga perlu dilindungi dengan MFA, sementara perangkat lunak harus diperbarui secara rutin untuk menutup kerentanan yang diketahui.

Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan konfigurasi cloud, enkripsi, logging, monitoring, endpoint protection, keamanan email, backup, pelatihan keamanan, serta pengelolaan risiko vendor.

Pencadangan juga perlu diuji secara berkala. Backup yang ternyata tidak dapat digunakan ketika terjadi insiden tidak akan banyak membantu proses pemulihan.

Apa Itu Incident Response?

Incident response merupakan proses terstruktur yang digunakan organisasi untuk mempersiapkan, mendeteksi, menangani, memulihkan, dan mengambil pelajaran dari sebuah insiden keamanan.

Ketika data breach terjadi, perusahaan perlu mengetahui sistem apa yang terdampak, mengamankan bukti, membatasi akses berbahaya, mengganti kredensial, mencabut token yang berisiko, memperbaiki titik masuk, serta menentukan data yang benar-benar terdampak.

Organisasi juga perlu menyiapkan komunikasi kepada pihak yang terkena dampak sesuai ketentuan yang berlaku.

Hubungan Data Breach dengan UU Pelindungan Data Pribadi

Di Indonesia, pelindungan data pribadi diatur melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Kerangka tersebut mengatur berbagai aspek pemrosesan dan perlindungan data pribadi, termasuk kewajiban pengendali data ketika terjadi kegagalan pelindungan data.

Dalam materi sumber, Pasal 46 disebut mewajibkan pemberitahuan tertulis paling lambat 3×24 jam setelah terjadi kegagalan pelindungan data pribadi kepada pihak yang ditentukan dalam aturan.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa data breach bukan hanya persoalan teknis. Bagi organisasi, insiden keamanan juga dapat berkaitan dengan kewajiban kepatuhan dan aspek hukum.

Untuk kasus tertentu, kewajiban hukum dapat berbeda berdasarkan sektor dan kondisi insiden sehingga organisasi perlu memperoleh nasihat hukum yang sesuai.

Apakah Data yang Sudah Bocor Bisa Dihapus?

Menghapus seluruh salinan data yang sudah tersebar bukan perkara sederhana.

Ketika informasi telah disalin, diunduh, diperjualbelikan, atau didistribusikan kembali, tidak ada jaminan bahwa semua salinan dapat ditemukan dan dihapus.

Karena itu, langkah yang lebih realistis adalah mengurangi dampak kebocoran. Caranya antara lain dengan mengamankan akun, mengganti kredensial, mengaktifkan MFA, menghentikan sesi aktif, dan memantau kemungkinan penyalahgunaan.

Apakah Mengganti Password Saja Sudah Cukup?

Tidak selalu.

Jika yang bocor adalah password, menggantinya dengan password unik dan mengaktifkan MFA merupakan langkah penting. Namun, jika session token juga dicuri, pengguna perlu mengakhiri seluruh sesi aktif agar akses lama tidak tetap berjalan.

Sementara itu, password baru tidak dapat mengubah data seperti NIK, tanggal lahir, alamat, atau biometrik yang sudah terlanjur tersebar.

Untuk jenis data tersebut, perlindungan perlu diarahkan pada pemantauan penyalahgunaan identitas dan kewaspadaan terhadap rekayasa sosial.

Apakah NIK Bisa Diganti Jika Bocor?

NIK memiliki karakteristik berbeda dari password. NIK bersifat unik dan melekat pada seseorang sehingga tidak dapat diganti hanya karena seseorang khawatir datanya telah tersebar.

Karena itu, jika terjadi indikasi penyalahgunaan NIK, langkah yang lebih tepat adalah menggunakan kanal resmi instansi terkait untuk melakukan pengaduan dan menindaklanjuti kasusnya.

Pengguna juga sebaiknya tidak mengunggah foto KTP ke situs yang tidak dikenal hanya untuk memeriksa apakah datanya bocor.

Apakah Semua Data Breach Berbahaya?

Risiko setiap data breach tidak sama.

Dampaknya dipengaruhi oleh jenis data yang bocor, jumlah data, siapa yang mendapatkan akses, apakah data terenkripsi, bagaimana password disimpan, apakah session token masih aktif, berapa lama data terbuka, serta seberapa mudah informasi tersebut dimanfaatkan.

Kebocoran alamat email yang sudah tersedia secara publik tentu memiliki karakter risiko yang berbeda dibandingkan kebocoran password aktif, data kesehatan, atau template biometrik.

Karena itu, setiap insiden perlu dinilai berdasarkan data yang benar-benar terdampak, bukan hanya berdasarkan ukuran dataset yang disebutkan dalam sebuah klaim.

Kesimpulan

Mengenal data breach penting karena kebocoran data tidak selalu terjadi akibat aksi peretasan yang rumit. Salah konfigurasi cloud, password yang digunakan berulang, phishing, human error, perangkat yang hilang, hingga kelemahan pihak ketiga juga dapat menjadi bagian dari masalah.

Bagi pengguna, perlindungan paling mendasar adalah memakai password unik, mengaktifkan MFA, mempertimbangkan passkey, memperbarui perangkat, dan tidak mudah percaya terhadap pesan yang meminta informasi sensitif.

Yang tidak kalah penting, jangan langsung mempercayai setiap klaim data breach yang beredar di media sosial atau forum. Bedakan antara informasi yang sudah dikonfirmasi, sedang diselidiki, terindikasi, dan sekadar diklaim.

Pada akhirnya, keamanan data bukan hanya tentang mencegah semua kemungkinan serangan. Tujuan utamanya adalah mengurangi peluang terjadinya insiden sekaligus membatasi dampaknya ketika sebuah insiden benar-benar terjadi.